Velyn Angelica, Sang Penakluk Bara Karhutla dari Balik Kemudi Heli Water Bombing

Velyn menyadari profesinya ini penuh tantangan. Apalagi, pesawat yang dia bawa jenis helikopter water bombing. Bagaimana dia harus bisa mengendalikan burung besi itu saat mengambil air di sungai, tentu sangat dibutuhkan kehati-hatian dan kecermatan

Hidayat
Oleh Hidayat - Reporter
Velyn Angelica, Sang Penakluk Bara Karhutla dari Balik Kemudi Heli Water Bombing
Pilot Velyn Angelica. ©2023 Merdeka.com

Namanya Velyn Angelica. Di usianya yang masih belia. Gadis usia 23 tahun memiliki peran penting dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan di wilayah Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Dia adalah pilot helikopter. Soal profesinya ini tak perlu diragukan. Selain memegang lisensi penerbangan helikopter dari Manggala Agni, dia juga sudah memiliki 500 jam terbang. Sungguh memukau.

Sehari-harinya, Velyn adalah pilot di perusahaan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas. Tugasnya tidak ringan. Memantau titik api serta mematikan api dengan helikopter water bombing.

Velyn berbagi pengalaman. Bekerja sebagai pilot tak selamanya dianggap keren. Dia sempat diremehkan orang terdekat. Tetapi dia membuktikannya.

"Jadi kita sangat sering mendapatkan stigma buruk baik dari orang yang terdekat kita itu pernah berkata 'ngapain jadi pilot jadi penerbang wanita toh juga akan berkeluarga dan kamu akan meninggalkan karir kamu," kata Velyn, pada Rabu (8/3).

Velyn meneguhkan tekat dan niatnya menjadi pilot. Apa yang didapatnya saat sebagai bukti kerja kerasnya. Soal risiko, dia menyakini setiap pekerjaan memiliki tantangan tersendiri.

"Saya berprinsip dengan cara membuktikan bahwa saya bisa jadi pilot helikopter, sedangkan untuk risiko tinggi saya katakan bahwa semua pekerjaan itu memiliki resiko tinggi semua," katanya.

Selama bekerja sebagai pilot water bombing banyak pengalaman didapat Velyn. Bahkan menurutnya, setiap hari yang dijalani mempunyai cerita tersendiri.

"Jadi menjadi pilot itu bukan sekadar menerbangkan helikopter tapi lingkungan dan keluarga di barak atau mess juga menjadi prioritas saya. Seandainya saya ditanya mau pindah ke helikopter atau fixed wing saya tetap pilih heli," ujarnya.

Velyn menyadari profesinya ini penuh tantangan. Apalagi, pesawat yang dia bawa jenis helikopter water bombing. Bagaimana dia harus bisa mengendalikan burung besi itu saat mengambil air di sungai, tentu sangat dibutuhkan kehati-hatian dan kecermatan

"Misalnya area tempat kita ambil air di sungai besar itu mudah, namun jika air hanya di kanal saja itu kan sulit karena sempit serta kecil," ujarnya.

Dia bercerita. Pernah suatu hari akan melakukan water bombing di kawasan Sumatra Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), tepatnya Sungai Baung. Ada tiga kali proses water bombing yang harus dilakukan. Dua berjalan mulus, tetap di tahap ketiga mengalami kendala.

Saat itu, dia harus mendarat di sebuah lokasi. Tetapi tidak ada area terbuka untuk pendaratan. Tetapi kondisi mengharuskan dia mendarat karena ada TIM Reaksi Cepat (TRC) yang akan diturunkan.

"Sehingga kita landing dipepet dengan dua pohon namun heli harus diupayakan masuk di tengah area yang sempit serta rawan akan bahaya tersebut,"tutupnya.

Baginya kendala adalah cara untuk bekerja lebih baik. Setiap menemui masalah dan muncul rasa takut, dia coba lawan. Terpenting, tetap mengutamakan keselamatan atau safety saat bertugas.

"Jika saya ditanya nih sama rekan rekan apakah masih ada rasa takut saat lagi terbang ya saya katakan masih ada sampai saat ini, rasa takut itu manusiawi ya misalnya jika terjadi emergency ya kita takutkan," kata gadis kelahiran 1999 ini.

Sebelum menjadi pilot profesional di PT National Utility Helicopters (NUH), Velyn pernah bergabung dengan tim penerbang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Selanjutnya, dia bergabung di Perusahaan APP Sinar Mas. Di perusahaan itu, ada tiga pilot perempuan selain dirinya dua lainnya yakni Janet, dan Indriana.

Rekomendasi