Tokoh Agama Hingga Lembaga Pendidikan jadi Sasaran Peredaran Narkoba di Sumsel

Sebanyak 714 kawasan di Sumatera Selatan masuk daerah rawan peredaran narkoba.

Irwanto
Oleh Irwanto - Reporter
Tokoh Agama Hingga Lembaga Pendidikan jadi Sasaran Peredaran Narkoba di Sumsel
Rilis kasus narkotika sepanjang Februari 2023. ©2023 Liputan6.com/Angga Yuniar

Sebanyak 714 kawasan di Sumatera Selatan masuk daerah rawan peredaran narkoba. Ironisnya, penyebarannya menyasar semua lini, seperti penegak hukum hingga lembaga pendidikan berbasis agama.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Petrus Reinhard Golose di Palembang, Rabu (1/3). Menurut dia, provinsi itu menjadi jalur perlintasan dan pasar potensial tertinggi ketiga di Sumatera, setelah Aceh dan Sumatera Utara.

"Peredaran narkoba di Sumsel sangat besar, masuk dari jalur sungai dan darat. Sasarannya semua sektor, pertambangan, aparat penegak hukum, hingga tokoh agama atau lembaga pendidikan berbasis agama," ungkap Petrus.

Dikatakan, semakin besar potensi perekonomian di sebuah daerah, maka semakin besar pula potensi pasar narkoba di daerah tersebut. Sepanjang 2021-2023, BNN Sumsel dan Polda Sumsel mengungkap 651 kilogram sabu, 511 kg ganja, dan 132.832 butir ekstasi.

"Karena itu perlu sinergitas dan visi yang sama antar pemangku kepentingan untuk memberantas narkoba," kata dia.

Gubernur Sumsel Herman Deru pun mengakui tingginya peredaran narkoba di wilayahnya. Hal ini disebabkan mudahnya akses pelaku mengirimkan barang itu ke tujuan, salah satunya melalui jalur sungai.

"Ada ratusan anak sungai di Sumsel dan menjadi pintu masuk narkoba dan terbentuk jaringan," ujarnya.

Untuk antisipasi penyebaran semakin luas, telah diambil langkah seperti larangan hiburan orgen tunggal pada hari itu. Hiburan itu disinyalir menjadi tempat transaksi dan penggunaan narkoba.

"Kita buat sedemikian rupa agar permintaan berkurang sehingga penyalahgunaannya turun," kata dia.

Rekomendasi