Jam Berapa Masuk Sekolah yang Ideal?

Menurut pengamat pendidikan, pukul 5 pagi bukan waktu yang ideal bagi siswa untuk masuk sekolah.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Jam Berapa Masuk Sekolah yang Ideal?
Cerita Siswa SMA di Kupang berangkat subuh masuk jam 5 pagi. ©2023 Merdeka.com

Pengamat Pendidikan, Doni Koesoema mengkritik kebijakan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat yang menerapkan masuk sekolah pukul 5 pagi bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Menurut Doni, pukul 5 pagi bukan waktu yang ideal bagi siswa untuk masuk sekolah. Dia merujuk pada riset tentang otak.

Berdasarkan riset, kata Doni, otak manusia mulai panas dan aktif di antara pukul 7 hingga 8 pagi.

"Jadi memulai pembelajaran jam 7 atau 8 akan sangat membantu," kata Doni kepada merdeka.com, Rabu (1/3).

Dia menyarankan, sebelum memulai proses pembelajaran, siswa diajak untuk berolahraga. Aktivitas fisik dinilai bisa membantu proses penyerapan informasi secara lebih cepat.

"Sebelum pelajaran bisa diadakan olah raga agar tubuh siap menerima pelajaran," ujar dia.

Doni menyebut, ada tiga masalah pendidikan di NTT. Pertama, sarana prasarana pendidikan terbatas. Kedua, akses pendidikan yang terbatas. Ketiga, kualitas guru terbilang cukup rendah.

Dia menilai, kebijakan masuk sekolah pukul 5 pagi bukan solusi atas tiga masalah pendidikan di timur Indonesia itu.

"Masalah pendidikan di NTT tidak dapat diselesaikan melalui perubahan jam masuk sekolah," kata Doni.

Menurut Doni, tiga masalah pendidikan ini hanya bisa diselesaikan dengan sejumlah cara. Yakni, pemerintah harus mengevaluasi dan membuka akses pendidikan pada semua anak NTT tanpa kecuali.

"Artinya dibangun sekolah yang baik dengan fasilitas minimal standar," jelasnya.

Selain itu, para guru perlu dilatih dan diperkuat kompetensinya dalam mengajar. Kemudian, perlu ada pelibatan publik dan kemitraan yang baik dengan masyarakat dalam membantu peningkatan kualitas pendidikan di sebuah sekolah.

"Jadi intervensi kolaboratif adalah sekolah per sekolah sesuai asesmen persoalan yang mereka hadapi," tegas Doni.

Rekomendasi