Tingalandalem Jumenengan atau peringatan naik tahta ke-19 Sampeyan Ndalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakoe Buwono (PB) XIII ditandai dengan tarian sakral Bedhaya Ketawang, di Pendapi Ageng Sasana Sewaka, Kamis (16/2). Sekitar 2.000 sentana, abdi dalem dan tamu undangan lainnya hadir dalam acara tersebut.
Tarian kebesaran yang hanya di pertunjukan ketika penobatan serta peringatan kenaikan tahta raja di Kasunanan Surakarta diperagakan oleh 9 remaja yang masih berstatus gadis atau perawan. Mereka menari selama 1 jam 50 menit nonstop di depan raja PB XIII, permaisuri GKR Pakoe Boewono, Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegoro Sudibys Raja Putra Narendra Mataram (Purbaya) serta tamu undangan lainnya. Tarian tersebut diiringi gamelan Kyai Kaduk Manisrenggo.
Acara terasa istimewa karena dihadiri raja-raja dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya Raja Keraton Keprabon Cirebon, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro X dari Pura Mangkunegaran, Kerajaan Adat Kepaksian Sekala Brak Lampung, Keraton Sumedang dan Halmahera Barat Maluku Utara.
Kemudian Yang Mulia KPH Indrokusumo Puro Pakualaman Yogjakarta, Raja Nusak Termanu Rote NTT, Kesultanan Paser Kalimantan Timur, PYM Dicky Pangeran Diraja Kesultanan Sanggau Pakoenegara Kalimantan Barat, Kepala 4 Suku Kesultanan Deli Ketua DPW Sumatera Utara dan lainnya.
Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Adipati Dipokusumo menyampaikan rasa terimakasihnya kepada semua pihak karena acara Tingalandalem Jumenengan berlangsung dengan lancar. Termasuk didalamnya Tari Bedaya Ketawang yang juga terlaksana dengan baik.
"Syukur Alhamdulillah, atas doa restu semua, teutama kepada masyarakat yang memperhatikan adanya kegiatan Tingalandalem Jumenengan yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, termasuk didalamnya ada Tarian Bedaya Ketawang terlaksana dengan lancar," ujarnya.
Advertisement
Sementara itu pelaksanaan Kirab Agung yang sedianya dilakukan pukul 14.00 WIB harus tertunda hingga petang. Hujan deras mengguyur Kota Solo dan sekitarnya selama lebih dari 2 jam. Kirab sendiri diikuti raja, permaisuri, putra mahkota kerabat, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming yang bergelar Kanjeng Pangeran (KP) Gibran Rakabuming Widura Negoro, para kerabat, sentana, abdi dalem serta raja-raja Nusantara.
"Kirab itu sebenarnya cara komunikasi politik kepada masyarakat pada waktu itu. Karena raja saat pertama kali jumeneng noto (bertahta), harus berkomunikasi kepada masyarakat. Berkomunikasinya itu secara langsung, sebagai raja menyampaikan kepada masyarakat, bahwa ini lho raja yang sekarang," jelasnya.
Dengan cara kirab tersebut masyarakat diharapkan lebih memahami keberadaan raja dan kerabat lainnya. Sedangkan jika ada acara keagamaan, masyarakat bisa datang mengikuti acara Grebeg ke Masjid Agung.
"Jadi yang dikirab itu Sinuhun (raja), kita cuma penderek (pengikut), pengombyong, pendamping dan sebagainya," pungkasnya.