Mengenal Rumah Gadang Kajang Padati, Rumah Berusia 100 Tahun yang Hampir Punah

Keberadaan rumah ini kini hampir punah dan kalah pamor dengan rumah gadang bagonjong di wilayah Sumatera Barat.

Lisa Septri Melina
Oleh Lisa Septri Melina - Reporter
Mengenal Rumah Gadang Kajang Padati, Rumah Berusia 100 Tahun yang Hampir Punah
Rumah Gadang Kajang Padati. Lisa Septri Melina

Rumah gadang identik dengan gojongnya di Sumatera Barat (Sumbar). Namun tidak banyak yang mengetahui, selain rumah gadang ternyata juga terdapat Rumah Gadang Kajang Padati.

Rumah Gadang Kajang Padati ini adalah rumah khas Kota Padang yang tidak memiliki atap berbentuk gonjong, melainkan mengadopsi atap pedati berupa atap pelana dengan sedikit melancip di ujung-ujungnya. Keberadaan rumah ini kini hampir punah dan kalah pamor dengan rumah gadang bagonjong di wilayah Sumatera Barat.

Salah satu Rumah Gadang Kajang Padati di Padang yang hingga kini masih bisa ditemukan di Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Pantauan merdeka.com pada Senin (12/12), rumah ini tampak ditinggikan seperti halnya rumah gadang bagonjong pada umumnya. Hingga kini, rumah ini dijadikan tempat untuk belajar mengaji (membaca Alquran) bagi anak-anak sepulang sekolah.

Bagian luar rumah ini identik dengan cat warna merah putih yang bagian dinding dan pintunya dipenuhi dengan ukiran. Rumah ini terbuat dari kayu dengan ruangan yang cukup luas, hanya saja terlihat pada beberapa bagian kayunya mulai lapuk.

Guru Mengaji Rumah Gadang Kajang Padati Suhaini (52) menceritakan, Rumah Gadang Kajang Padati ini diperkirakan telah berusia lebih dari seratus tahun silam. Kemudian sejak 2004 dijadikan sebagai tempat untuk belajar Alquran bagi anak-anak di sekitar lokasi.

"Pemiliknya meningal dunia di usia 80 tahun, setelah itu rumah ini kosong. Agar rumah ini tetap terawat jadi kita gunakan sebagai tempat belajar sejak 2004 silam. Kita memperkirakan rumah ini sudah berusia 100 tahun lebih," ujar Suhaini kepada merdeka.com.

Suhaini mengatakan, rumah ini tetap dirawat dengan tidak merubah bentuk aslinya. Hanya cat bagian luar yang ditambah.

Meskipun berusia lebih dari 100 tahun, Suhaini maupun masyarakat sekitar tidak mengetahui secara pasti tahun beberapa rumah tersebut dibangun. "Untuk tahun pastinya tidak ada yang tahu, orang-orang terdahulu telah meninggal dunia. Tempat bertanya itu tidak ada lagi," ujar dia.

Kurang lebih setengah jam dari Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Rumah Gadang Kajang Padati juga bisa ditemukan di Kelurahan Seberang Palinggam, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Rumah ini milik suku tanjuang.

Pemilik rumah, Zumbratul Aini (68) mengatakan, dahulunya rumah ini dihuni oleh anak-anak dari keluarga suku tanjuang, namun seiring dengan berjalannya waktu rumah gadang hanya difungsikan sebagai tempat perkumpulan bersama sanak saudara.

"Dahulu kami tinggal di Rumah Gadang Kajang Padati ini, namun karena semua sudah memiliki rumah dan banyak yang merantau akhirnya rumah gadang dijadikan sebagai tempat berkumpul seperti hari raya dan acara tertentu saja," kata Aini ditemui di lokasi, Senin (12/12).

Dia melanjutkan, rumah ini sudah berusia lebih dari 100 tahun silam, namun untuk tahun pastinya tidak ada yang mengetahui. "Kita berpatokan pada foto peningalan nenek-nenek kami terdahulu waktu masih muda, itu ada tulisannya tahun 1927," tutur dia kepada merdeka.com.

Dia menambahkan, meski saat sudah ini tidak ditempati, Zumbratul mengaku akan tetap menjaga Rumah Gadang Kajang Padati dengan tidak menghilangkan bentuk bentuk aslinya. "Akan tetap kita rawat sampai kapanpun, apalagi Rumah Gadang Kajang Padari saat ini sudah jarang ditemukan di Padang, bahkan telah ada orang yang tidak kenal dengan nama rumah ini," ujar dia.

Rumah Gadang Kajang Padati merupakan salah satu dari 75 warisan budaya dari Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) pada tahun 2022.

"Rumah Gadang Kajang Padati ditetapkan sebagai WBTbI asal Sumatera Barat pada 22 Oktober 2022 kamarin," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaifullah kepada merdeka.com, Senin, (12/12).

Dia melanjutkan, keberadaan Rumah Gadang Kajang Padati yang menjadi khasnya Kota Padang saat ini semakin sulit ditemukan. "Untuk jumlahnya sedikit, saat tidak sampai 10 rumah," ujar dia.

Dia menambahkan, dengan jumlah yang sedikit, pihaknya akan melesterikan rumah tersebut agar tidak mengalami kepunahan. "Kita dari Dinas Kebudayaan Sumbar akan terus merawat dan melakukan pendataan terkait Warisan Budaya Takbenda Indonesia asal Sumatera Barat ini," tutur dia.

"Kita juga akan terus bekerja sama dengan Pemko Padang agar rumah ini tidak punah, seperti nantinya akan kita usahakan perkecamatan di Kota Padang memiliki satu rumah Gadang Kajang Padati," imbuhnya.

Budayawan sekaligus Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol (IB) Padang Sheiful Yazan mengatakan, dinamakan Kajang Pedati karena bentuk atapnya yang mengadopsi bentuk atap pedati lama, yaitu alat transportasi tradisional yang ditarik oleh kerbau, sementara kajang sendiri berarti atap. Rumah Gadang Kajang Padati merupakan rumah panggung dengan lantai yang ditinggikan dari tanah.

"Atapnya tidak terlalu runcing, mirip dengan atap pedati tempo dulu. Dan ruangnya sendiri tidak terlalu banyak," ujar Imam diwawancarai merdeka.com.

Imam mengatakan, rumah gadang merupakan tempat perkumpulan suatu kaum, yang mana tiap nagari memilki bentuk yang berbeda, hal itu bisa terjadi karena pengaruh kondisi lingkungan sekitar, seperti kondisi angin.

Rumah Gadang Kajang Padati ini juga diduga terpengaruh oleh budaya yang datang dari luar, seperti India, gujarat serta kerajaan Aceh kala itu. Rumah ini bisa juga dikatakan sebagai gabungan dari beberapa budaya.

"Rumah Gadang Kajang Padati ini banyak ditemukan di daerah pesisir (daerah darat di tepi laut) karena tepengaruh angin yang kencang makanya rumah gadang ini tidak memiliki gonjong seperti rumah gadang yang lazim dikenal banyak orang di Luhak Nan Tigo (Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Limapuluh Kota) yang memang jauh dari daerah pesisir," ujar dia.

Rekomendasi