Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengungkapkan, rata-rata waktu anak terdeteksi gagal ginjal akut misterius adalah tujuh hari sejak dari meminum obat sirop. Deteksi dini bisa dilihat jika anak mengalami gejala anuria atau pengurangan produksi urine.
"Pada saat kita melakukan surveilans epidemiologi (pasien gagal ginjal akut), kalau kita menghitung, saya lihat bahwa mulai dari obat cair itu diminum, sampai dengan timbul gejala anuria, anuria itu pengurangan bahkan hampir tidak ada pipis, itu kita anggap sebagai median. Nah data di DKI, rata-rata mulai dari minum sampai timbul anuria itu sekitar tujuh hari," kata Widy ketika ditemui di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (25/10).
Oleh karena itu, Widy mengatakan bahwa obat penawar atau antidotum menjadi hal yang penting. Saat ini, kata Widy, seluruh kepala dinas di Indonesia sedang berkumpul untuk diberikan tata laksana terbaru terkait penanganan gangguan ginjal akut.
"Tentu kecepatan memberikan antidotum jadi penting. Nah, saat ini sedang dilakukan webinar. Kemenkes sedang mengumpulkan semua kepala dinas dan semua rumah sakit untuk melakukan update tata laksana terkini karena ini sifatnya kan terus berkembang, dinamis ya. Terbaru apa, diinformasikan," jelas Widy.
Meskipun demikian, Widy tidak menjelaskan penanganan yang seharusnya dilakukan bila terlanjur meminum obat sirop. Sebab, penanganan tiap anak (gagal ginjal akut) bisa berbeda.
"Teman-teman dokter yang bisa menjawab. Secara, ini kan by kasus, tentunya berbeda. Perkembangan klinis menjadi penting, tentunya diikuti oleh labnya, dibuktikan apa masih ada kadar zat berbahaya atau tidak untuk menetapkan didosis berapa dan di hari berapa dinyatakan aman. Itu tentu masih terus berkembang (soal gagal ginjal akut)," kata Widy.
Advertisement
Sebelumnya, Widy juga mengungkapkan, terdapat 90 kasus Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal atau Acute Kidney Injury (AKI) yang ditemukan di Jakarta. Data ini dihimpun dari Januari 2022 sampai Senin (24/10).
"Data DKI Jakarta sampai 24 oktober tercatat terlaporkan sebanyak 90 kasus. Jadi angka 90 kasus ini bisa kita kumpulkan karena partisipasi aktif dari semua rumah sakit di DKI yang telah melakukan hospital record review sehingga datanya kita dapatkan," kata Widy dalam webinar bertajuk ‘Kewaspadaan dan Deteksi Dini Gangguan Ginjal Akut Atipikal pada Anak’ di Youtube Jakarta Public Policy Center BPSDM DKI Jakarta, Selasa (25/10).
Adapun data ini bertambah 8 anak dari sebelumnya pada Kamis (20/10) berjumlah 82 anak.
Widy juga mengatakan, pihaknya telah mengkarantina obat-obat yang telah dilarang beredar sementara oleh BPOM.
"Kami saat ini sejak 18 Oktober melakukan pengamanan obat cair. Jadi tidak kita sita tapi kita karantina sementara di tempatnya masing-masing sampai nanti menunggu kepastian regulasi lebih final dari tingkat yang berkompeten atau berwenang," tambah Widy.