Pakar Minta Pemerintah Analisis Kematian Covid-19 Lebih Mendalam

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama membenarkan kematian yang terjadi selama Omicron merebak jauh lebih rendah dibandingkan gelombang Delta. Namun, dia mengingatkan kematian tidak dapat digambarkan dengan angka perbandingan saja.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Pakar Minta Pemerintah Analisis Kematian Covid-19 Lebih Mendalam
Pemakaman Pasien Covid-19 di TPU Rorotan. ©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Tercatat sebanyak 1.536 kematian terjadi selama badai Omicron di Indonesia hingga 16 Februari 2022. Menurut Kementerian Kesehatan, data ini lebih rendah daripada gelombang kedua yang dipicu varian Delta.

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama membenarkan kematian yang terjadi selama Omicron merebak jauh lebih rendah dibandingkan gelombang Delta. Namun, dia mengingatkan kematian tidak dapat digambarkan dengan angka perbandingan saja.

"Perlu pula dilihat bagaimana dampak pada keluarga yang ditinggalkan, nyawa yang hilang tidak tergantikan, serta berbagai pertimbangan aspek lainnya," katanya melalui pesan singkat, Kamis (17/2).

Kementerian Kesehatan telah menganalisis data kematian Covid-19 yang terjadi hingga 13 Februari 2022 mencapai 1.090 orang. Hasil analisis menunjukkan, 68 persen kematian belum divaksinasi lengkap, 49 persen kematian masuk golongan lanjut usia, dan 48 persen memiliki komorbid.

Dia mengusulkan agar pemerintah menganalisis data kematian Covid-19 lebih mendalam, setidaknya dalam lima bentuk. Pertama, penentuan cause of death (COD) apakah karena Covid-19 dengan badai sitokin atau justru akibat perburukan komorbid yang ada, atau gabungan keduanya.

"Dua, dianalisa bagaimana perjalanan klinik dari mulai tertular, manifestasi gejala awal dan proses perburukannya sampai pasien wafat," ujar mantan Kepala Badan Litbang Kementerian Kesehatan ini.

Ketiga, menganalisis data perbandingan antara Omicron dan varian lain pada pasien yang meninggal dunia. Keempat, menganalisis apakah pasien Covid-19 wafat di rumah sakit, di rumah atau tempat lain.

"Lima, dihitung waktu yang dibutuhkan proses penanganan, yang biasa kita kenal dalam bentuk patient’s delay atau doctor’s delay atau health system delay atau mungkin hospital delay, dan lain-lain," ucapnya.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini menyarankan agar hasil analisis data kematian Covid-19 lebih mendalam dipublikasi melalui jurnal ilmiah sehingga dapat menjadi pembelajaran untuk penanganan di waktu mendatang.

Sebelumnya, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, kasus Covid-19 harian saat ini sudah melampaui gelombang kedua. Data 16 Februari 2022, kasus Covid-19 harian bertambah 64.718, lebih tinggi dari puncak gelombang kedua yang mencapai 56.757. Meski demikian, penambahan kasus kematian lebih rendah.

"Melihat jumlah kematian kemarin dilaporkan ada 134 kematian. Jumlah ini jauh lebih rendah. Kita tahu pada saat Delta dengan angka 56.000, angka kematian yang dilaporkan sekitar 2.500," jelasnya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Kementerian Kesehatan RI, Rabu (16/2).

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito juga menyampaikan hal serupa. Dia mencatat, data pekan lalu, penambahan kasus kematian akibat Covid-19 sebanyak 505 orang. Sementara saat puncak gelombang kedua mencapai lebih dari 1.200 orang meninggal.

"Walaupun demikian, nyawa tetaplah nyawa yang tidak tergantikan," tegasnya.

Rekomendasi