Jamaludin (36), karyawan sebuah perusahaan swasta nasional, kaget mendapat isi pesan singkat WA dari Kemenkes pada Rabu (9/2) dan menyatakan dirinya positif Covid-19. Saat Jamal mengecek aplikasi PeduliLindungi dan tertera bahwa hasil PCR dirinya positif dari laboratorium RS Brawijaya Depok.
“Sebelumnya saya tidak pernah melakukan PCR Swab sekalipun di RS Brawijaya Depok,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/2).
Merasa tidak pernah tes di RS tersebut kemudian Jamal menghubungi pihak aplikasi dan meminta dilakukan perubahan status atas hasil tes yang tidak pernah dijalani di RS tersebut yang dirasa tidak valid. Jamal menghubungi pihak aplikasi Peduli Lindungi melalui saluran telepon. Dari keterangan pihak operator menyatakan kalau pihak aplikasi hanya menerima data tersebut.
Lalu Jamal diminta menghubungi RS Brawijaya Depok. Ketika menghubungi pihak RS, keluhan keluhan tersebut kemudian ditampung dan diteruskan oleh pihak laboratorium RS. Setelah berhari-hari menghubungi banyak pihak, akhirnya kini status Jamal sudah berubah tidak lagi positif di aplikasi. Dia pun merasa lega atas perubahan status dirinya.
“Sudah normal, mereka kan juga nerusin ke Pusdatin. Kemarin juga saya minta arahan dari Kemenkes. Cuma sekarang mereka lagi ngurusin ke Pusdatin segala macam sehingga belum tahu ya sudah diselesaikan atau belum. Kalau dari saya minta pihak RS ada permintaan maaf saya tidak mau panjang. Yang jelas dari mereka bisa memperbaiki,” ungkapnya.
Jamal sudah meminta konfirmasi dari pihak RS terkait hal tersebut. Keterangan yang dia dapat bahwa pihak RS mengaku ada kesalahan input data. Jamal menjelaskan dari keterangan RS bahwa ada kesamaan nama dan tanggal lahir dirinya dengan orang lain. Dan hal itu sangat disayangkan oleh Jamal.
“Mereka mengakui kalau ada kesalahan input, dan kebutulan nama dan tanggal lahirnya sama, itu yang disayangkan,” tambahnya.
Jamal pun mengalami kerugian atas kekeliruan data tersebut. Selama beberapa hari dirinya terganggu dan tidak bisa bekerja.
“Saya ngga bisa kemana-mana dua hari. Dari jam 3 pagi sampai malam masih telfonin 119 lagi menanyakan ini gimana. Terus nelpon ke pihak mereka. Mereka komunikatif dan mereka bilang masih diurus-urus dan menjanjikan. Saya masih, sebenarnya saya surat saja sudah cukup. Pihak PeduliLindungi sudah hilang hasil positifnya,” akunya.
Dirinya meminta agar pihak RS membuat surat permintaan maaf secara tertulis dan meminta agar kasus serupa tidak terjadi lagi nantinya.
“Yang saya minta sama mereka ada surat permintaan maaf dari RS secara tertulis kepada saya. Ada bentuk tanggung jawab mereka dan mereka mengakui kalau itu kelalaian dari pihak RS. RS ada itikad baik meminta maaf secara tertulis. Sudah cukup,” ucapnya.
Ketika mencoba konfirmasi pada RS Brawijaya Depok melalui sambungan telepon namun tidak ada yang bisa memberikan keterangan. Wahyu selaku Marketing RS Brawaijaya Depok sempat menjawab panggilan telepon namun diarahkan untuk menghubungi Bapak Among. Ketika mencoba menghubungi Among namun tidak menjawab untuk konfirmasi.