Tukang Las Proyek Kereta Cepat Diimpor dari China, Bappenas: Butuh Teknik Tinggi

Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Pungky Sumadi mengungkap, alasan mendatangkan tukang las dari China. Menurut dia, tukang las khusus didatangkan karena belum ada tenaga ahli dari dalam negeri.

Ahda Bayhaqi
Oleh Ahda Bayhaqi - Reporter
Tukang Las Proyek Kereta Cepat Diimpor dari China, Bappenas: Butuh Teknik Tinggi
Progres Pembangunan Kereta Cepat. ©2021 Liputan6.com/Johan Tallo

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung rupanya mengimpor tukang las khusus dari China. Mereka tidak menggunakan tenaga tukang las dari Indonesia karena dinilai butuh keahlian khusus.

Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Pungky Sumadi mengungkap, alasan mendatangkan tukang las dari China. Menurut dia, tukang las khusus didatangkan karena belum ada tenaga ahli dari dalam negeri.

"Awalnya agak membingungkan pada saat kami melihat misalnya tukang las untuk rel itu ternyata masih harus dari China kita datangkan," ujar Pungky dalam Rapat Panja Pengawasan Penanganan Tenaga Kerja Asing di Komisi IX DPR, Selasa (8/2).

Rel yang digunakan untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung menggunakan rel kualitas tinggi. Tingkat kepadatan dan besi itu belum pernah diproduksi di dalam negeri. Panjang satu batang rel itu mencapai 50 meter.

Maka itu, membutuhkan teknis pengelasan khusus dan alat berkualitas tinggi yang belum dimiliki Indonesia. Sehingga, tukang lasnya pun harus didatangkan langsung dari China.

"Untuk itu membutuhkan teknik pengelasan dan alat-alat yang berkualitas tinggi yang memang belum kita miliki," kata Pungky.

Pungky menuturkan, contoh pekerja di proyek kereta cepat ini memperlihatkan bahwa masih perlu tenaga ahli dari luar negeri. Sebab, tenaga ahli di Indonesia belum memiliki kapasitas yang sama.

"Ini sebetulnya kami dapatkan sebagai contoh mengapa kita masih membutuhkan, kadang-kadang tenaga ahli yang walaupun sifatnya sangat teknis tetapi memang kita belum memiliki kapasitas itu," ujarnya.

Sebagai gambaran, jumlah tenaga kerja asing di Indonesia perbandingannya 1:2.880 orang. Sementara di Thailand 1:17, Singapura 1:2, Malaysia 1:12, Australia 1:4, dan Hongkong 1:3.

"Artinya adalah di setiap 2.880 pekerja Indonesia ada satu tenaga kerja asing," kata Pungky.

Rekomendasi