Dulu Hijau dan Segar, Ini Kondisi Curah Kobokan Setelah Bencana Gunung Semeru

Dusun Curah Kobokan menjadi lokasi terparah akibat bencana awan panas guguran Gunung Semeru, Sabtu (4/12) lalu. Ratusan rumah hancur terendam lahar dan awan panas bercampur air hujan. Tanaman dan pepohonan mengering dan mati.

Darmadi Sasongko
Oleh Darmadi Sasongko - Reporter
Dulu Hijau dan Segar, Ini Kondisi Curah Kobokan Setelah Bencana Gunung Semeru
Dulu Hijau dan Segar, Ini Kondisi Curah Kobokan Setelah Bencana Gunung Semeru. ©2021 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Area penambangan pasir Curah Kobokan benar-benar berada di kaki gunung Semeru. Bentuk 'tumpeng' sempurna terlihat dari sepadan Sungai Besuk Lanang, yang membelah kawasan itu.

Dirunut ke atas, hulu Sungai Besuk Lanang berada di puncak 'bukaan' kawah Gunung Semeru. Sungai tampak meliuk turun hingga di kawasan penambangan.

"Sebelum erupsi, kanan dan kiri sungai sampai atas tampak hijau. Ada mata airnya yang menghidupi warga sekitar sini," kata Rizal, warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang, Kamis (9/12).

Dusun Curah Kobokan menjadi lokasi terparah akibat bencana awan panas guguran Gunung Semeru, Sabtu (4/12) lalu. Ratusan rumah hancur terendam lahar dan awan panas bercampur air hujan. Tanaman dan pepohonan mengering dan mati.

Sebagian korban meninggal dunia adalah warga yang tengah beraktivitas di lokasi penambangan pasir. Mereka gagal menyelamatkan diri saat bencana awan panas datang menyapu kawasan itu.

"Sebelah sini tambang kecil, biasanya sampai jam 4 saja, tapi kalau sebelah sana itu sampai lembur-lembur," jelas Rizal menunjuk Sungai Besuk Wedok.

Jalan Beton Tak Terlihat Lagi

Rizal menggambarkan jalan beton yang digunakan warga untuk melintasi Sungai Besuk Lanang. Jalan itu juga dilintasi truk yang hilir mudik membawa muatan. Warga yang hendak menambang pasir juga melewati jalur itu.

"Di sini ada jalan warga menambang, orang sini mayoritas penambang," tegasnya.

Jalan itu saat ini tidak terlihat lagi, kecuali hanya tonjolan beton di ujung selatan. Sementara bagian tengah sungai penuh lumpur panas yang masih terus mengepulkan asap belerang. Ujung sana ada pos, di sana banyak yang ngumpul saat kejadian," jelas Rizal.

Permukiman Sekitar Jadi Kampung Mati

Setahun lalu, kata Rizal, peristiwa serupa pernah terjadi. Namun lahar panas tidak sampai ke Sungai Besuk Lanang. Alirannya saat itu hanya melewati Sungai Besuk Wedok.

"Mungkin ini laharnya terlalu banyak, sehingga meluap sampai ke sana, sampai ke warga di sini," ungkapnya.

Saat ini kawasan pertambangan tersebut penuh dengan lahar panas yang masih mengepulkan asap belerang. Kawasan itu sama sekali berubah jika dibandingkan sebelum kejadian awal.

Tidak lagi tampak aliran air yang mengalir dan menyegarkan. Semua tertimbun lumpur panas yang perlahan mengeras.

Permukiman di sekitar sudah menjadi kampung mati dan tanpa penghuni. Hanya tampak warga yang berusaha mengais barang tersisa untuk dibawa pergi ke tempat aman.

Sementara itu, petugas SAR dari berbagai unsur masih terus mencari korban yang belum ditemukan. Setiap sudut selalu diperiksa untuk menemukan warga yang masih dilaporkan hilang.

Rekomendasi