Wakil Menteri Pertahanan Herindra menjelaskan, di masa pandemi Covid-19 dinamika keamanan regional semakin memberikan kompleksitas dalam pengelolaan sektor pertahanan. Hal tersebut kata dia terjadi di tengah kebijakan refocusing anggaran negara akibat Covid-19.
"Perkembangan dinamika keamanan regional, seperti AUKUS dan ketegangan Tiongkok-Taiwan, semakin memberikan kompleksitas dalam pengelolaan sektor pertahanan sebab hal ini terjadi di tengah kebijakan refocusing anggaran negara akibat pandemi," kata Herindra saat memberikan kuliah umum di Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) pada Kamis (28/10).
Dia membeberkan bahwa sejumlah penelitian telah memprediksi fenomena perlombaan produksi dan distribusi vaksin dapat memengaruhi arah politik luar negeri sebuah negara. Terlebih kata dia pandemi Covid-19 menguji kemampuan, kredibilitas, dan integritas pemerintah dalam mengelola krisis.
Sebab itu menurut Herindra, pemahaman tentang pergeseran geopolitik di saat krisis seperti sekarang merupakan masalah esensial. Herindra pun mengutip pernyataan Presiden pertama RI, Sukarno, saat memberikan kuliah di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) pada 31 Mei 1965.
"(Kala itu Presiden Sukarno) berkata, 'Tanpa pengetahuan geopolitik negerinya, tanah airnya, bangsanya, orang sebenarnya tidak mengetahui apa benar-benar apa yang dipertahankan,'" tuturnya.
Dia juga menambahkan, pandemi berimplikasi terhadap strategis dan operasional pertahanan Indonesia. Walaupun begitu dia mengakui, krisis selalu mempunyai dua sisi, destruktif dan konstruktif.
"Artinya, dalam kondisi krisis akan tetap ada upaya mendorong perubahan atau game changers," bebernya.
Pada level strategis, dia menjelaskan pandemi telah mengguncang tatanan sistem pengelolaan kesehatan global. Hal itu mengingat tidak ada satu pun negara yang siap dengan skenario terburuk terjadinya wabah secara global dalam waktu yang bersamaan. Pandemi Covid-19 juga telah mengubah nature penanganan ancaman nonmiliter karena berkaitan dengan dimensi politik, sosial, hubungan internasional, dan lainnya.
"Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, bahwa akan ada bentuk ancaman nonmiliter yang memiliki karakter multideminsional. Dan saya sependapat dengan sejumlah pandangan dalam literatur studi keamanan, bahwa ancaman nontradisional tidak dapat ditangani hanya oleh aktor negara," ucapnya.
Tidak hanya itu, dia juga menjelaskan pandemi juga berdampak signifikan pada level operasional. Pada awal terjadinya wabah, porsi patroli kapal dan beberapa latihan militer terpaksa disesuaikan karena TNI tetap harus fokus terlibat dalam penanganan Covid-19.
"Belum lagi negara harus kehilangan sejumlah prajurit terbaik akibat terinfeksi virus corona," ujarnya.