Miris, Laporan Kekerasan Verbal ke Anak di Garut saat PJJ Meningkat

"Kalau saat anaknya belajar di sekolah, kekerasan terhadap anak tidak terjadi. Tapi saat di rumah, kembali berulang," ungkapnya.

Mochammad Iqbal
Oleh Mochammad Iqbal - Reporter
Miris, Laporan Kekerasan Verbal ke Anak di Garut saat PJJ Meningkat
Pembelajaran Jarak Jauh. ©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Rahmat Wibawa mengatakan bahwa selama kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) terjadi peningkatan kekerasan terhadap anak. Bentuk kekerasannya pun bermacam-macam.

"Ada yang bentuk kekerasannya verbal, ada juga yang fisik. Namun kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan tersebut adalah kekerasan dan memberikan dampak terhadap anak," kata Rahmat, Jumat (17/9).

Kebanyakan, menurut Rahmat, kekerasan tersebut terjadi saat kegiatan pembelajaran jarak jauh, baik saat daring maupun luring yang dilakukan di rumah. Para guru yang biasa mengajar di sekolah, tidak luput menjadi pelaku kekerasan tersebut.

"Jadi saat belajar ini, karena biasanya belajar di sekolah dibimbing oleh guru tapi pas di rumah harus dibimbing oleh orang tua. Pas belajar ini kadang anak tidak fokus, momentum itulah yang kemudian menjadikan terjadinya kekerasan terhadap anak. Secara verbal dimarahi atau secara fisik dicubit atau dijewer," jelasnya.

Pihaknya, diakui Rahmat memang banyak menerima laporan kejadian tersebut dari sejumlah wilayah di Kabupaten Garut. Kekerasan terhadap anak, menurutnya hingga saat ini masih berlangsung karena kegiatan pembelajaran tatap muka saat ini masih dilakukan secara terbatas.

"Kalau saat anaknya belajar di sekolah, kekerasan terhadap anak tidak terjadi. Tapi saat di rumah, kembali berulang," ungkapnya.

Rahmat berharap agar kekerasan terhadap anak selama PJJ tidak dilakukan. Hal tersebut menjadi perhatian pihaknya karena akan memberikan dampak psikologis secara tidak langsung terhadap anak.

Hal lainnya, disebut Rahmat, PJJ juga tidak jarang menjadikan terjadinya eksploitasi tanpa disadari oleh orang tua terhadap anak.

"Sekarang itu di Garut banyak menemukan badut-badut yang di dalamnya anak-anak. Orang tua menyebut itu kemauannya si anak, tapi mereka menikmati keuntungan dari aktivitas tersebut," ucapnya.

Kegiatan tersebut, menurut Rahmat menjadi sesuatu hal yang bisa mempengaruhi Pendidikan anak karena kesehariannya dihabiskan di jalanan. Mereka pun kemungkinan akan bertemu dengan hal-hal yang tidak wajar.

"Yang paling utama, karena aktivitas tersebut mereka berpikir untuk tidak melanjutkan pendidikan karena merasa sudah bisa menghasilkan uang, ini yang kita khawatirkan. Kita akan melakukan langkah dengan berkoordinasi dengan pihak terkait menyikapi persoalan ini," tutup Rahmat.

Rekomendasi