Wakil Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Slamet Budiarto menilai, pemerintah seolah-olah terus menggencarkan target vaksinasi Covid-19 tetapi mengabaikan angka kematian. Menurutnya, pemerintah juga harus menekan angka kematian akibat corona yang masih tinggi.
"Seolah-olah yang sekarang ini adalah, saya enggak tahu Kementerian terkait mengejar vaksin. Betul mengejar vaksin, tapi kuratifnya jangan diabaikan karena kematiannya tinggi sekali masih di atas seribu jadi Kementerian terkait adalah harus melakukan upaya untuk menekan angka kematian," katanya dalam diskusi 'Suara Nakes untuk Indonesia', Sabtu (21/8).
Slamet sepakat vaksinasi tetap berjalan dengan target 2 atau 3 juta suntikan perhari. Tetapi ia juga mengingatkan pemerintah untuk tetap optimal menggunakan sumber daya kesehatan yang ada.
"Ada praktik dokter jumlahnya 70 ribu, ada klinik pratama jumlahnya sekitar 30 ribu, ada praktik bidan puluhan ribu, praktik perawat juga sama, itu gak dipakai. Sebenarnya sehari 5 juta (vaksinasi) pun bisa, asal vaksinnya tersedia," ucapnya.
Kemudian, lanjut Slamet, upaya lainnya yang harus digencarkan adalah promotif. Yaitu sosialisasi agar masyarakat tahu bahwa Covid-19 bahaya sehingga tidak mempercayai hoaks tentang corona.
"itu kan belum maksimal (promotif), preventifnya vaksin, kuratifnya adalah mencegah orang sakit menjadi meninggal atau cacat, caranya sdm-nya harus cukup, logistik kesehatan, obat, oksigen, alkes harus cukup, keempat bed-nya harus cukup, keempat pembiayaan harus cukup, sampai hari ini kan banyak rumah sakit belum dibayar, termasuk tahun 2020," pungkasnya.