Sejak Oktober 2020, warga RW 02, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut menggagas kedai sembako gratis. Kedai tersebut dibuat untuk membantu warga lainnya yang terdampak pandemi Covid-19.
Kedai sembako gratis ditempatkan di pekarangan depan rumah warga yang ada di gang perkampungan sekitar RW 02. Di dalam kedai tersebut terdapat sejumlah bahan pokok, mulai beras, minyak goreng, gula, tepung terigu. Ada juga ikan asin, sayuran, jengkol, detergen hingga pembersih lantai.
Ketua RW 02, Indra Gozal menyebut bahwa barang yang ada di kedai tersebut berasal dari warga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih. "Sebagian juga ada beras yang berasal dari bantuan pemerintah melalui Dinas Ketahan Pangan Kabupaten Garut," kata Indra Gozal, Rabu (28/7).
Dia bercerita bahwa awal mula berdirinya kedai sembako gratis itu adalah gagasan dari warganya. Gagasan itu diutarakan kepadanya karena melihat banyaknya warga yang terdampak pandemi Covid-19 di akhir tahun 2020.
"Kalau di awal pandemi, warga yang terdampak memang ada, tapi tidak banyak. Jelang akhir tahun, warga kita ini ada yang kena PHK dari tempatnya bekerja, ada juga yang memang sulit. Sesekali mungkin bisa dibantu tetangganya, tapi kalau terlalu sering ada rasa malu yang muncul," jelasnya.
Dia menjelaskan bahwa di daerahnya, setidaknya terdapat 200 rumah yang ditinggali oleh 360 kepala keluarga. Hingga saat ini, setidaknya ada 60 kepala keluarga yang dinilainya membutuhkan bantuan karena kondisi perekonomiannya.
Salah seorang warganya, menurut Indra, saat itu mengusulkan agar dibuat tempat khusus di mana siapapun yang membutuhkan bisa mengambil kebutuhan sehari-hari tanpa harus malu. Setelah didiskusikan dengan warga lainnya, para warga menyetujuinya dan kedai sembako gratis pun berdiri sejak saat itu hingga kini.
Sejak pertama kali didirikan, menurut Indra, kedai tersebut tidak pernah kosong dari kebutuhan harian warga karena ada saja yang mengisi. Warga yang membutuhkan pun tidak pernah mengambil lebih dari kebutuhannya sehari-hari.
"Memang pernah ada yang bertanya, boleh enggak ngambil banyak untuk seminggu karena kalau setiap hari malu. Saya bilang jangan, mending setiap hari ngambil sesuai kebutuhan saja, karena kasihan juga orang lain kalau polanya begitu. Kalau ngambil setiap hari juga enggak usah malu, karena memang untuk mereka-mereka juga," ungkap Indra.
Kedai sembako gratis itu, menurutnya, tidak jarang juga diambil oleh warga lain RW bahkan dari luar desa. Walau secara khusus dibuat untuk warganya, namun saat warga luar mengambil, ia dan warga lainnya tidak melarang.
"Bisa saja kan mereka yang mengambil karena membutuhkan. Selain yang mengambil, sebetulnya tidak jarang juga ada warga yang enggak tahu dari mana tiba-tiba menyimpan sembako begitu saja di kedai," katanya.
Salah seorang warga RW 02, Sadiyah (53) mengaku sangat bersyukur dengan adanya kedai sembako gratis yang didirikan tersebut. Bagaimana tidak, sejak pandemi berlangsung pendapatannya sangat berkurang namun kebutuhan terjadi peningkatan.
Sadiyah mengatakan bahwa keluarganya sangat terbantu dengan kepedulian warga yang selalu menyimpan kebutuhan harian di kedai tersebut.
"Kalau enggak ada ini, mungkin saya dan keluarga bisa susah untuk dapat makan," tutur Sadiyah.
Menurut Sadiyah, kepedulian sosial warga di kampungnya selama pandemi cukup tinggi. Sebelum adanya kedai sembako gratis, tidak jarang tetangganya menanyakan bagaimana kondisi keluarganya karena tahu dengan keterbatasannya.
Walau begitu, tidak jarang dia merasa malu kalau kemudian hidupnya bergantung kepada tetangganya. Dengan adanya kedai sembako gratis itu, kini ia pun tidak harus selalu mengandalkan tetangganya.
"Semoga kebaikan para warga yang menyimpan sembako di kedai sembako gratis ini dibalas berlipat ganda oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala," tutup Sadiyah.
Advertisement