Banjir terjadi di Kota Makassar. Selain itu ada tiga daerah lain di Sulawesi Selatan mulai dilanda banjir, yakni Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Maros. Ketinggian air pun mencapai setinggi dada orang dewasa.
Kepala BPBD Kabupaten Takalar, Nasir mengatakan, air di Sungai Pappa, Kecamatan Pattalassang meluber ke pemukiman. Selain karena curah hujan tinggi, juga karena pintu air di bendungan Pamukkulu dibuka.
"Air Sungai Pappa di Kecamatan Pattalassang meluap dan meluber ke pemukiman warga dan jalan-jalan," katanya, Rabu (10/3).
Dia menjelaskan, dari sembilan kecamatan di Kabupaten Takalar, ada tiga kecamatan yang dipastikan banjir, yakni Kecamatan Pattalassang, Kecamatan Polombangkeng Selatan dan Kecamatan Galesong Utara.
"Ketinggian air beragam. Ada yang sepaha seperti yang terjadi di Desa Patte'ne dan setinggi dada orang dewasa di Desa Bontocinde di Kecamatan Polongbangkeng. Lalu air di jalan yang ada di Kelurahan Bontolebang, Kecamatan Galesong Utara juga setinggi paha atau ketinggian 1 meter," ujarnya.
Belum ada laporan mengenai korban jiwa. Nasir mengungkapkan, sebagian warga sudah mengungsi tapi hanya ke rumah-rumah tetangga atau kerabatnya yang posisi rumahnya lebih tinggi.
Adapun di Kabupaten Jeneponto, banjir juga terjadi dengan ketinggian 30 cm hingga 50 cm. Khususnya di daerah Kecamatan Bangkala.
"Di Kecamatan Bangkala itu memang rawan karena daerah hilir atau lokasi pelimpahan air dari ketinggian. Sungai Allu di kecamatan itu sudah tidak mampu menampung air sehingga meluap. Selain karena curah hujan sangat lebat, juga karena ada pendangkalan di sungai itu sejak kejadian banjir di tahun 2019 dan 2020 lalu," kata Kabag Komunikasi dan Protokol BPBD Jeneponto, Opik Sadaria.
Sementara itu, Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar telah keluarkan instruksi ke pihak-pihak terkait untuk terlibat langsung dan siaga 24 jam melakukan pemantauan daerah-daerah rawan. Khususnya yang di pinggiran sungai.
Kondisi yang sama juga di Kabupaten Maros. Ketinggian air di badan jalan hingga sebatas paha. Tapi di daerah pemukiman warga, sudah mencapai dada.
Kepala BPBD Maros, Andy Fadly mengatakan, banjir dikarenakan air Sungai Maros meluap dan debit air terus meluap dan meluber.
Dari 14 kecamatan di Kabupaten Maros, kata Andy, rata-rata terdampak banjir. Khususnya yang memang langganan banjir setiap tahunnya seperti Kecamatan Lau, Kecamatan Marusu dan Kecamatan Moncongloe.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintahan setempat kalau-kalau masyarakat sudah butuh dievakuasi," tutupnya.