Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menilai, salah satu penyebab terjadinya cuaca ekstrem karena meningkatnya gas rumah kaca. Salah satunya karbondioksida dari bahan bakar.
"Salah satu penyebabnya akan terlihat karena meningkatnya gas konsentrasi rumah kaca yang ada di atmosfer, gas rumah kaca antara lain C02, C02 itu alihan pembakaran fosil fuel akibat dari kegiatan industri, transportasi, penggundulan dan seterusnya," katanya saat jumpa pers virtual, Sabtu (20/2).
Menurutnya, tren tersebut meningkat seiring dengan adanya peningkatan temperatur udara di wilayah Indonesia. Periode kejadian ulang musim hujan juga semakin pendek.
"Yang kami tonjolkan data dan fakta tren itu meningkat seiring dengan peningkatan temperatur udara di wilayah Indonesia dan korelatif dengan peningkatan intensitas hujan selama 30 tahun terakhir dan juga semakin seringnya, atau semakin pendeknya periode ulang kejadian hujan ekstrem," tuturnya.
Dia bilang, poin itu yang perlu BMKG sampaikan sebagai latar belakang mengapa saat ini cuaca ekstrem masih terjadi. Sehingga, tidak bisa dikatakan hal tersebut karena murni sifat alam hingga terjadi cuaca ekstrem, bencana longsor dan seterusnya tanpa sebab.
"Tetapi kita harus sadar kenapa cuaca ekstrem itu terjadi, karena perubahan iklim global, karena gas rumah kaca meningkat, gas rumah kaca itu juga karena aktivitas kita semua dalam memanfaatkan bahan bakar fosil antara lain, bukan satu satunya," ujarnya.
Lebih lanjut, Dwikorita mengungkapkan, tidak bisa diartikan bahwa bencana terjadi karena kesalahan alam. Tapi, BMKG selalu mempelajari perilaku alam dan bisa menganalisis apa penyebabnya.
"BMKG menjelaskan ini semua bukan berarti kita mencari kambing hitam oh itu karena alamnya, bukan. Tetapi justru tugas BMKG itu memahami alam, mengerti perilaku alam, fenomena alam, berdasarkan observasi analisis data data," ucapnya.
"Mohon tidak di artikan mencari kambing hitam oh banjir itu karena hujan ekstrem, bukan, tetapi karena dengan data data kita lebih memahami alam dan mengenal batas batas alam agar dalam menyikapi fenomena alam ini kita tidak melampaui batas," sambungnya.
Menurutnya, BMKG terus meriset dengan data hasil observasi terkait alam. Dia berharap, masyarakat bisa memahami, beradaptasi dan menyesuaikan fenomena alam ini.
"Menyesuaikan sikap kita, perilaku kita, bahkan mencegah jangan memperparah kondisi ekstrem itu akibat gas gas rumah kaca, jadi utamanya mari kita mengenal alam untuk memelihara alam agar tidak merugikan manusia," imbuh Dwikorita.