Pemerintah Kota Bandung bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berupaya merealisasikan proyek tol dalam kota atau Intra Urban Toll Road (BIUTR).
Proyek yang diklaim bisa mengatasi permasalahan kemacetan ini sudah digagas pada tahun 2005 namun belum sepenuhnya terealisasi karena banyak kendala, salah satu di antaranya proses pembebasan lahan.
Diketahui, BIUTR dibangun secara bertahap mulai dari Tol Pasteur lalu menyusuri kawasan Pasupati, Gasibu, Ujungberung, hingga ke Tol Cileunyi. Pemerintah Kota Bandung berperan sebagai perangkat wilayah administrasi seperti mengurus perizinan.
Pendanaan dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pihak swasta yaitu PT Wijaya Karya (Wika), PT Marga Utama Nusantara (MUN) dan PT Summarecon Agung (SMRA) yang tergabung dalam satu konsorsium.
"Anggarannya dari pemerintah pusat, apakah nanti bentuknya KBPU segala macam, itu urusan mereka," kata Wali Kota Bandung, Oded M. Danial, Kamis (4/2).
Dalam pembahasan terbaru dengan Kementerian PUPR, Oded memberikan dua opsi pembangunan proyek yang pembangunannya di kawasan Ujungberung. Salah satu alasannya, BIUTR bisa selaras dengan Tol Purbaleunyi, atau langsung dengan Tol Cisumdawu.
"Insya Allah BIUTR sampai ke Ujungberung lalu belok kanan (ke arah Gedebage Tol Purbaleunyi), tapi tadi ada opsi juga jadi tidak belok kanan," terang dia.
Ia berharap, proyek ini bisa terealisasi. Dengan demikian, ia menyebut masalah kemacetan bisa selesai. Terlebis, selain BIUTR, ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Direktorat Jendedal Bina Marga Kementerian PUPR terkait pembangunan sejumlah fly over (jalan layang) di Kota Bandung.
Proyek fly over yang sudah dirancang adalah pembangunan di Jalan Soekarno-Hatta mulai dari Perempatan Buahbatu, hingga perempatan Ibrahim Adjie.