Strategi Petani Kopi Banyuwangi, di Tengah Lesunya Serapan Pasar

Petani kopi rakyat di Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro Imam Mukhlis (29), menjadi salah satu petani yang tetap bertahan menjual secara mandiri dengan kualitas petik merah.

Haris Kurniawan
Oleh Haris Kurniawan - Reporter
Strategi Petani Kopi Banyuwangi, di Tengah Lesunya Serapan Pasar
Petani kopi. ©2020 Merdeka.com

Bulan September jadi masa puncak panen raya kopi rakyat di Kabupaten Banyuwangi. Meski serapan penjualan kopi mengalami penurunan akibat dampak pandemi Corona (Covid-19), petani di Banyuwangi punya strategi untuk tetap mandiri memasarkan produknya dengan harga jauh lebih mahal 50 persen dibandingkan harga dari tengkulak.

Harga kopi green been jenis robusta di tingkat tengkulak masih cukup stabil di Rp 22 ribu per kilogram, sementara harga dari petani kopi yang mandiri menjual ke pelaku UMKM kafe tetap dibanderol dengan harga stabil antara Rp 42 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogramnya.

Petani kopi rakyat di Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro Imam Mukhlis (29), menjadi salah satu petani yang tetap bertahan menjual secara mandiri dengan kualitas petik merah.

"Meski pasar lesu, saya tetap menjual secara mandiri. Tidak akan saya jual ke tengkulak, karena selisih harganya sampai 50 persen," kata Imam saat ditemui di rumahnya, Kamis (17/9).

Imam memiliki strategi memproses kopinya dengan tepat hingga kadar air 12 persen, sehingga mampu disimpan selama 2 tahun dengan kualitas rasa tetap terjaga.

"Akhirnya saya memilih menimbun kopi saya di rumah," ujarnya.

Imam memiliki kebun kopi seluas 15 hektar dengan produktivitas panen rata rata mencapai 10 ton per tahun. Jumlah tersebut dia pasarkan secara mandiri melalui media sosial dengan nama produk "Omah Kopi". Imam juga membuka kedai kopi di halaman rumahnya, lengkap dengan paket wisata panen kopi, sangrai hingga menyeduh kopi.

"Sekarang pasar wisata lesu, kafe-kafe juga. Namun sekarang sudah mulai membaik, dibandingkan awal pandemi sempat 3 bulan kopi saya tidak laku karena semuanya tutup," ujarnya.

Imam mengatakan, 70 persen serapan produk kopinya dibeli oleh pelaku usaha kafe-kafe yang tersebar di Banyuwangi sisanya untuk produk oleh-oleh wisatawan hingga pasar ekspor.

Sebelum pandemi, Imam juga menyerap kopi rakyat milik tetangganya yang bersedia memanen kopi merah dengan standar harganya. Sebab permintaan pasar yang besar namun ketersediaan kopi dengan petik merah yang terbatas.

"Sebenarnya saya sudah edukasi para petani untuk mandiri menjual dengan harga lebih mahal dengan syarat petik merah, namun mereka akhirnya kembali ke tengkulak karena ingin sekaligus laku semua, meski dengan harga rendah," jelasnya.

Imam sendiri sudah pernah menjual produk kopinya hingga ke Dubai, Timur Tengah selama setahun terakhir, dengan harga lebih tinggi.

"Permintaan sebulan sekali. Saya juga ada permintaan 30 ton per bulan, tapi ya kendalanya petani di sini belum ada gudang dengan daya tampung sebesar itu," jelasnya.

Imam berharap di desanya terdapat koperasi yang bisa menyerap produk petani dengan harga lebih mahal melalui pasar yang mereka bentuk sendiri. Lewat koperasi Imam juga yakin proses pemantauan kualitas juga semakin mudah, karena proses penjualan melalui satu pintu di koperasi.

"Kalau ada koperasi enak, proses petik merah tidak hanya dari saya tapi juga petani lain bisa langsung terserap," katanya.

"Kalau sekarang dengan keadaan pasar yang sedang lesu, sementara saya tidak membeli kopi milik tetangga saya, karena milik saya sendiri juga belum habis dan saya juga belum punya gudang dengan kapasitas besar," tambahnya.

Tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani kopi, para buruh petik kopi merah juga mendapat penghasilan lebih tinggi bila petani memilih memetik merah. Bila proses petik merah seharga Rp 1000 per kilogram, upah petik asal hanya Rp 650, per kilogram.

"Dalam sehari saya petik merah bisa dapat 100 kilogram, kalau petik asal dapatnya memang lebih banyak, tapi harga petiknya ya murah," ujar Supani, buruh petik kopi.

Rekomendasi