Pakar Sebut Kurva Covid-19 Masih Terus Naik Hingga Akhir Tahun 2020

Gelombang keempat yang akan dihadapi, kata Purnawan, adalah munculnya penyakit mental. Ia menyebutkan, gelombang terakhir ini akan datang dengan frekuensi yang besar. Ada banyak faktor yang menyebabkan munculnya penyakit mental akibat Covid-19.

Rifa Yusya Adilah
Oleh Rifa Yusya Adilah - Reporter
Pakar Sebut Kurva Covid-19 Masih Terus Naik Hingga Akhir Tahun 2020
Gelombang masalah Covid-19. ©2020 Merdeka.com

Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Purnawan Junadi mengatakan, akan ada empat gelombang masalah yang dihadapi Indonesia bahkan seluruh masyarakat di dunia.

Gelombang pertama yaitu pandemi Covid-19 yang sedang dihadapi sekarang ini. Purnawan menyebut, sampai akhir tahun 2020, kurva Covid-19 ini masih akan terus naik. Sehingga perkiraannya, pada akhir tahun kurva Covid-19 belum akan melandai.

"Dalam pandemi ini, ada 4 gelombang masalah yang akan kita hadapi. Yang pertama, jumlah pasien Covid-19 sampai akhir tahun kurvanya masih naik, tapi pelan," katanya dalam webinar yang diselenggarakan oleh United Cities and Local Governments Asia Pacific bersama APEKSI, Rabu (2/9).

Selanjutnya, gelombang kedua yang akan dihadapi adalah para penderita penyakit akut tidak akan berani lagi ke rumah sakit. Dan gelombang ketiga, mereka yang memiliki penyakit kronik juga tidak akan berani lagi ke rumah sakit (RS). Mereka sadar bahwa dirinya memiliki risiko yang tinggi tertular Covid-19.

Purnawan menyebutkan, penderita penyakit akut dan kronis itu berbeda. Penyakit kronis diderita lebih dari enam bulan. Sedangkan penyakit akut dialami kurang dari enam bulan. Penyakit kronis penyembuhannya pun akan lebih sulit dan tidak bisa disembuhkan secara total, misalnya diabetes.

"Gelombang kedua, yang punya penyakit akut tidak akan berani ke rumah sakit lagi. Jadi mereka menderita penyakit-penyakit urgent tapi bukan Covid-19. Gelombang ketiga, para pasien kronik juga tidak akan berani ke RS," ujarnya.

Gelombang keempat yang akan dihadapi, kata Purnawan, adalah munculnya penyakit mental. Ia menyebutkan, gelombang terakhir ini akan datang dengan frekuensi yang besar. Ada banyak faktor yang menyebabkan munculnya penyakit mental akibat Covid-19.

Faktor pertama adalah ekonomi. Banyak orang yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) maupun yang kondisi keuangannya menjadi terperosok akibat Covid-19.

Faktor kedua yakni orang-orang akan merasa burn out akibat terlalu lama menjalani aktivitas di rumah, rasa bosan yang sudah memuncak.

"Ada satu lagi gelombang yang akan besar, yakni penyakit mental. Bisa psychic trauma, mental ilness. Covid-19 ini meruntuhkan semua negara. PHK banyak terjadi. Yang gawat, mereka bisa burn out karena terlalu lama di rumah. Mereka bisa tidak peduli lagi dan akan berani ke luar rumah tanpa pakai masker," kata Purnawan

Dia mengatakan, jalan ke luar yang bisa diambil pemerintah untuk mengatasi empat gelombang tersebut adalah dengan mendesain metode penanganan penyakit menular di masa depan dengan berbasis teknologi. Sehingga, masyarakat tidak perlu ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatannya.

Hal ini bertujuan untuk mencegah penularan Covid-19. Purnawan menyebut, pemerintah sebenarnya dari awal sudah menganjurkan masyarakat untuk tidak melakukan pemeriksaan langsung di rumah sakit lagi.

"Jadi ini hal-hal yang akan kita hadapi. Mau tidak mau, kita harus menggunakan telemedicine. Pak Jokowi bilang telemedicine ini rumah sakit tanpa dinding. Dirjen Kesmas Kemenkes juga bilang RS tutup praktik saja," terangnya.

"Jubir Gugus Tugas yang lama, dokter Yuri juga suruh kita hindari rumah sakit. Jadi ini blessing in disguise bagi startup telemedicine," imbuhnya.

Purnawan yang juga merupakan Ketua Aliansi Telemedika Indonesia (Atensi) menjelaskan, telemedicine adalah layanan kesehatan berbasis teknologi informasi yang memungkinkan pasien berkonsultasi dengan dokter tanpa bertemu langsung. Konsultasi dengan dokter akan membantu pasien mendapatkan informasi mengenai diagnosis, perawatan.

"Konsultasi ini juga merupakan penanganan pertama pada penyakit, cedera, hingga tips untuk meningkatkan kesehatan tubuh di tengah pandemi Covid-19 ini," tutupnya.

Rekomendasi