75 Tahun Merdeka, Karangtaruna di Sukoharjo Lukis Pagar dengan Mural Wayang

Ketua Karang taruna Dukuh Bowan, Rian Pangestu mengatakan, mural tokoh pewayangan tersebut dibuat oleh para pemuda di kampungnya selama sebulan terakhir. Pihaknya menggunakan warna dasar merah putih sebelum melukis obyek.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
75 Tahun Merdeka, Karangtaruna di Sukoharjo Lukis Pagar dengan Mural Wayang
Mural Wayang di Sukoharjo. ©2020 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Banyak cara dilakukan masyarakat khususnya kalangan muda dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-75. Selain warna warni bendera dan lampu hias, karangtaruna di Dukuh Bowan, Desa Kudu, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah ini menghias pagar dengan mural.

Mural yang dilukiskan di pagar rumah warga sepanjang sekitar 100 meter tersebut bukan bergambar biasa. Namun berupa tokoh pewayangan yang bernilai seni tinggi. Diantaranya tokoh Punakawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, Gunungan, Bima, Arjuna serta tokoh ksatria lainnya.

Ketua Karang taruna Dukuh Bowan, Rian Pangestu mengatakan, mural tokoh pewayangan tersebut dibuat oleh para pemuda di kampungnya selama sebulan terakhir. Pihaknya menggunakan warna dasar merah putih sebelum melukis obyek.

"Kami sudah mulai melukis sebulan ini. Selain untuk memeriahkan HUT RI, sekaligus juga untuk melestarikan budaya Jawa," ujarnya.

Menurutnya, setiap peringatan HUT RI, para karang taruna di desanya selalu membuat karya dan acara unik kreatif. Namun untuk tahun ini, pihaknya belum mengetahui apakah diberikan izin oleh pemerintah atau tidak. Karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

"Mengingat kita masih pandemi, kemudian muncul ide spontan bikin mural," terangnya

Untuk pembuatan mural tersebut hampir seluruh karang taruna dilibatkan. Selain tokoh pewayangan, kereta kencana dan gunungan, ada satu bagian tembok yang dilukis dengan aksara Jawa atau terbaca 'Peringatan hari kemerdekaan RI'.

"Kami memang sengaja memilih mural tokoh wayang Jawa. Kami berharap generasi muda kita mengenal tokoh pewayangan yang merupakan budaya kita sendiri. Nanti kalau sering melihat pasti juga akan paham sifatnya dan nilai dan filosofi yang ada," katanya.

Menurut Aisya, salah satu pelukis, mural tersebut dikerjakan setiap malam. Ia memperkirakan tepat pada tanggal 17 Agustus akan selesai.

"Sebenarnya kalau diizinkan kita akan resmikan dengan upacara atau kirab," jelasnya.

Sementara itu berdasarkan pantauan merdeka.com di lokasi, masih tersisa satu blok mural yang belum diselesaikan. Yakni dua tokoh wayang kreasi yang saling berhadapan. Kedua tokoh yang belum jelas namanya tersebut masih berupa mal dan lukisan setengah jadi.

Rekomendasi