Tim uji klinis vaksin Covid-19 dari China menunggu izin dari komite etik untuk memulai penelitian. Meski belum dimulai, masyarakat yang menawarkan diri menjadi relawan sudah berdatangan dari berbagai latar belakang.
Diketahui, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi salah satu tempat yang akan menguji klinis vaksin yang didatangkan dari perusahaan farmasi di Tiongkok. Pengujian tersebut dikerjasamakan bersama Biofarma dan Sinovach Biotech, China.
Ketua Tim Riset Fakultas Kedokteran Unpad, Prof Kusnandi Rusmil mengatakan sudah banyak masyarakat dari berbagai latar belakang yang menawarkan diri terlibat dalam pengujian ini, dimulai dokter, hingga pejabat. Hanya saja, beberapa diantaranya tidak masuk kriteria yang sudah ditentukan karena berada di luar kota.
Ia memfokuskan akan merekrut relawan yang berdomisili wilayah Bandung Raya karena pertimbangan pemantauan kondisi kesehatan bisa lebih maksimal. Dipastikan, semua relawan mendapat kepastian perlindungan asuransi kesehatan selama mengikuti penelitian.
"Sudah pada nelepon pengen ikut, tapi kan kita belum mulai. Begitu ada (izin) Komite Etik, kita bisa tahu, tapi sekarang sudah banyak (yang mau jadi relawan meski proses pengujian belum mulai)," kata Kusnandi di Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unpad, Jalan Prof Eyckman Nomor 38, Kota Bandung, Rabu (22/7).
"Dokter-dokter di RS Jakarta pengen ikut saya tolak, enggak bisa. Kan selama 6 bulan lebih kita pantau ketat, 3 hari, 5 hari, 14 hari dipantau ketat," ia melanjutkan.
Ia menjelaskan, tahap uji klinis kepada manusia terdiri dari tiga fase. Dua fase sudah dilakukan di China dengan subjek sekitar 500 orang. Penelitian fase ketiga melibatkan banyak negara, termasuk Indoensia dengan jumlah relawan mencapai ribuan orang.
"Hasil uji coba di fase 3 hasilnya harus sama. Kalau hasilnya tidak sama (di setiap negara), vaksin tidak boleh dijual. Perhitungan saya begitu. Setelah 28 hari orang itu akan kebal terhadap penyakit. Tetapi suntikannya harus 2 kali," ucap dia.
Rencananya, proses penelitian uji klinis vaksin Covid-19 dipusatkan di enam fasilitas kesehatan di wilayah Kota Bandung yang dianggap berpengalaman melakukan uji klinis. Yakni, yakni RSP Unpad, Kampus Unpad Dipatikukur, Puskesmas Sukapakir, Puskesmas Ciumbuleuit, Puskesmas Garuda, dan Puskesmas Dago.
Di tempat yang sama, Manajer Lapangan Uji Klinis Vaksin Covid-19, Dr Eddy Fadlyana menargetkan bisa mengumpulkan sekitar 1.620 orang dalam keadaan sehat dan tidak pernah menderita sakit akibat Covid-19. Sesuai dengan protokol, kriteria yang dibutuhkan adalah warga usia produktif dengan umur 18 sampai 59 tahun.
"Cara merekrut subjek yang 1.620 orang ini, tentunya setelah kami mendapat izin dari Komite Etik. Vaksin ini terbuat dari virus yang sudah dimatikan. Tetapi virus yang dimatikan itu masih mempunyai daya untuk membuat antibodi, sehingga kalau diberikan kepada orang-orang yang sakit berat, ini tidak akan berbahaya," katanya.
Meski masih menunggu izin dari Komite Etik, namun, ia sudah menyusun tahapan pengujian. Tahap awal, dilakukan terhadap sebanyak 540 orang selama tiga bulan untuk diperiksa kekebalannya. Setelah tiga bulan sampai enam bulan, hanya akan dipantau keamanannya atau efikasi.
"Jadi nanti ada kelompok yang mendapatkan plasebo dan kelompok yang mendapat imunisasi vaksin. Pada akhir penelitian mereka yang mendapatkan plasebo akan mendapatkan vaksin Covid-19, tentunya setelah diregistrasi di Badan POM," terang dia.
"Apabila sakit apapun juga itu, akan dicover oleh asuransi, sebagai standarnya, di rumah sakit di sekitar Kota Bandung," ia melanjutkan.
Ia berharap semua penelitian ini bisa berjalan dan selesai selama enam bulan. Data akan digabungkan dengan hasil penelitian dari berbagai negara dengan target Januari 2021 vaksin sudah bisa digunakan oleh masyarakat.