Perwakilan PBB Untuk Masalah Perlindungan Anak di Indonesia, Astrid Gonzaga mengungkapkan adanya dampak positif dan negatif dari imbauan stay at home atau #dirumahaja saat wabah Virus Corona atau Covid-19. Ia menjelaskan, anak dari keluarga yang penghasilannya terdampak Covid-19 paling rentan terkena virus. Karena tidak ada yang mengawasi.
Pun anak tersebut sudah barang tentu tidak bisa belajar secara daring dari rumah lantaran keterbatasan ekonomi yang ada.
"Ini tantangan terhadap keluarga di Indonesia dari keluarga ekonomi terbatas, alhasil, kualitas belajar anak tersebut tidak lancar lantaran memiliki keterbatasan saat belajar dan mengajar yang digelar secara online," kata Astrid saat jumpa pers yang ditayangkan akun youtube BNPB, Kamis (2/4).
Imbasnya, bila mereka tidak mendapat kesempatan yang sama dengan temannya yang memiliki fasilitas online yang baik, maka bisa berpotensi mendapat nilai jelek di rapot.
"Nilainya mereka tidak baik dan dapat dibully," kritis dia.
Menurut Astrid, ketidakmampuan anak belajar online turut didukung beban ekonomi keluarga yang terdampak pandemi Covid-19. Penghasilan didapat menyusut akibat lesunya ekonomi secara global yang berdampak kepada mereka.
"Kami mendapatkan informasi bahwa keluarga yang rentan stay home itu ada dampak dari penghasilan keluarga mereka untuk kelangsungan hidupnya. Dengan demikian anak-anak tidak ada yang mengawasi dan berarti anak itu rentan terhadap Covid-19," tambah Astrid.
Karenanya, Astrid mengajak masyarakat Indonesia untuk tetap menerapkan semangat gotong royong dengan catatan tetap melaksanakan physical distancing sesuai dengan imbauan pemerintah.
Astrid bersyukur jika dalam rentang waktu penanganan pandemi Covid-19 pemerintah merilis kebijakan yang pro terhadap keluarga ekonomi lemah dengan sejumlah bantuan. Hal ini diharapkannya bisa mendorong agar imbauan stay at home masih dapat dilaksanakan tanpa memaksakan terus bekerja mengingat bahaya Covid-19 yang masih mengancam.
"Ada banyak tantangan dalam stay home tapi ada juga lebih banyak yang positif dan menyenangkan yang bisa dilakukan bersama anak-anak. Stay at home adalah bagaimana kita bersama mencari yang menyenangkan," katanya.
Advertisement
Di samping itu, Astrid menilai anjuran di rumah aja merupakan kesempatan bagi orangtua yang biasa dengan rutinitas kesibukannya bekerja untuk berdekatan dengan sang anak.
"Stay at home adalah kesempatan bagi keluarga untuk bisa bersama kembali. Mungkin bisa ngobrol yang tidak dibatasi gadget, membangun team work dan beribadah bersama," kata Astrid.
Astrid mengamini, bila ada orangtua yang sehari-harinya memiliki kesibukan masing-masing. Sehingga kualitas waktu dihabiskan di rumah bersama anak sangatlah kurang.
"Hal-hal yang selama ini biasanya sulit dilakukan terutama mereka yang di kota, hubungan orangtua dan anak kerap terbentur dengan aktivitas pekerjaannya," lanjut dia.
Astrid menggambarkan, betapa sibuknya kehidupan keluarga di perkotaan. Di Jakarta, misalnya, seorang bapak dan ibu yang bekerja setiap hari mungkin pulang malam anak sudah tidur dan berangkat pagi anak belum bangun.
Karenanya, dia mengajak para orangtua yang memiliki ritme padat sehari-hari memanfaatkan imbauan stay at home dari pemerintah untuk kita merajut kembali komunikasi dengan anak dan keluarga yang tidak intensif.
"Ini tantangan bagi orangtua yang selama ini tidak pernah mengasuh anaknya terutama bagi anaknya yang telah memasuki usia remaja," kritisnya.
Menurut Astrid, anak adalah pribadi yang dinamis, terlebih saat mereka beranjak remaja, mereka akan lebih asik bersama teman sebayanya ketimbang sama keluarga di rumah.
"Maka manfaatkan ini sebaiknya, untuk saling merekatkan hubungan kekeluargaan di rumah," kata Astrid.