YD (38), terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror di Klaten, Kamis (14/3) lalu dikabarkan meninggal dunia. Kabar meninggalnya YD disampaikan Ketua RW Dusun Desan, Desa Joton, Kecamatan Jogonalan, Mujiono, kepada wartawan, Rabu (20/3).
Mujiono mengatakan, YD alias Yuli meninggal dunia pada Senin (18/3) malam, setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Polri, Jakarta. Yuli, kata Mujiono, menderita penyakit lambung akut.
Jenazah Yuli dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Selasa (19/3) siang. Dia serta sejumlah kerabat dari Klaten maupun Jakarta ikut melayat. Termasuk Iwan, suami Yuli dan ketiga anaknya.
Mujiono mengaku mendapatkan kabar kematian Yuli dari petugas Polres Klaten. Polisi mengajak dirinya dan ketua RT ke Jakarta untuk menyaksikan kondisi Yuli yang sudah meninggal dunia dan sekaligus menyaksikan pemakamannya. Mujiono bersama rombongan dan seorang anggota Densus 88 berangkat ke Jakarta pada Senin malam.
"Jadi dari Reserse Polres Klaten ada yang ke sini. Dulu kan sudah diminta sewaktu-waktu bersedia menjadi saksi. Saya kan ke sana (Jakarta), tapi awalnya nggak ngerti kalau Yuli sudah meninggal," ujar Mujiono.
Saat di Jakarta, Mujiono juga bertemu dengan keluarga Yuli. Setelah makan malam, dia dan keluarga baru diberitahu jika Yuli sudah meninggal dunia karena sakit.
"Sakitnya Minggu, meninggalnya Senin siang jam satu. Sakit lambung akut, dari rumah itu kan sudah sakit. Pas di sini kalau makan saja muntah. Katanya di Jakarta pernah operasi. Harusnya kontrol tapi dia tidak kontrol," katanya.
Mujiono menambahkan, ibu kandung Yuli, Sriyatun sengaja tidak diajak ke Jakarta. Hari ini, Iwan, suami Yuli dan keluarga mengunjungi mertuanya tersebut. Kedatangan Iwan sekaligus untuk mengabarkan kondisi Yuli.
"Hari ini Mas Iwan dan 3 anaknya pulang ke sini untuk memberitahu ibunya Yuli. Semua keluarga dari Jakarta ke sini," pungkas dia.
Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap seorang perempuan berinisial YD (35) di rumah orang tuanya Dukuh Desan Wetan RT 5 RW 2 Desa Joton, Jogonalan, Klaten, Kamis (14/3) sore. Penangkapan YD membuat warga terkejut. Hal itu karena YW yang lahir di desa tersebut tak pernah menunjukkan perilaku yang aneh. Demikian juga orangtua dan keluarga serta kerabat yang ada.
Wakijo, Kadus 1 Desa Joton yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggal YD mengaku kenal dengan wanita yang sekarang tinggal di Jakarta tersebut. Saat masih remaja perilaku YD tidak ada yang aneh. Dia dan kedua orang tua maupun anggota keluarga lainnya berhubungan baik dengan tetangga.
"Mbak Yuli (YD) itu asli kelahiran sini (Desa Joton). Saya sendiri terkejut, karena keluarga mereka dari dulu tidak ada afiliasi ke situ. Keagamaannya ya landai-landai saja, tidak ada yang aneh," ujar Wakijo saat ditemui wartawan, Jumat (15/3).
Wakijo menduga, setelah pindah domisili, YD menjadi berubah. Lingkungan atau pergaulan YD, lanjut dia, sangat mempengaruhi kondisinya saat ini. YD menurut dia, pindah dari Desa Joton, sekitar 15 tahun lalu, atau selepas lulus SMA.
"Lho kok jadi seperti ini, saya kaget sekali. Setelah pindah kita sudah tidak tahu pergaulannya sama siapa," katanya.
Lebih lanjut Wakijo mengungkapkan, semenjak pergi dari rumah, dirinya jarang melihat wanita 35 tahun tersebut pulang. Padahal di desa tersebut, YD masih mempunyai seorang ibu kandung dan kerabat lainnya. Saat pulang pun, YD yang dikabarkan sudah memiliki suami dan anak, justru terlihat sendiri.
Wakijo mengatakan, YD sudah tidak ber-KTP Klaten karena sudah berpindah ke Jakarta. Namun sejak kecil, YD tinggal dan sekolah di Klaten.
"SD ya di Tambakan 1, SMP dan SMA juga disini," katanya.
"Sebenarnya warga tidak resah, cuma terkejut. Terkejutnya kok warga saya, tetangga saya, teman saya seperti itu. Padahal dulu nggak seperti itu, sangat prihatin kita. Apalagi ibunya yang sudah seperti itu, hidup sendiri sama anak yang terakhir," katanya lagi.