Pimpinan Toriqoh Bantah Sebar Isu Kiamat Sudah Dekat

Muhammad Romli membantah menghembuskan isu itu sehingga warga Ponorogo bedol deso ke pesantrennya di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Darmadi Sasongko
Oleh Darmadi Sasongko - Reporter
Pimpinan Toriqoh Bantah Sebar Isu Kiamat Sudah Dekat
Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin, KH Muhammad Romli. ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin, KH Muhammad Romli angkat bicara menyusul isu fatwa huru-hara sebelum Pilpres dan kiamat setelah Ramadan. Romli membantah menghembuskan isu itu sehingga warga Ponorogo bedol deso ke pesantrennya di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

"Tidak ada, itu hoaks semua. Kalau saya pernah menerangkan, Ramadan ada meteornya maka akan ada huru-hara selama 3 tahun, kemarau 3 tahun. Itu ada hadistnya. Setelah itu dajjal dan seterusnya. Itu yang saya terangkan," jelas Romli di Mapolres Batu.

"Kalau masalah ada isu saya memberi fatwa huru-hara sebelum Pilpres atau menjelang Pilpres, itu hoaks semua. Gorengan dari orang tidak bertanggung jawab," sambungnya.

Warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo bedol deso pindah ke Kasembon, Kabupaten Malang. Mereka mengikuti toriqoh yang diasuh Muhammad Romli di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Pimpinan toriqoh disebut-sebut memberikan fatwa kepada jemaah tentang kiamat sudah dekat. Sehingga para jemaah diminta menjual asetnya untuk bekal akhirat. Hasil penjualannya diminta disetorkan ke pondok dan jemaah diminta salat lima waktu di masjid pondok pesantren tersebut.

Selain itu, disebutkan kalau Ramadan tahun ini akan terjadi huru-hara atau perang. Sehingga jemaah diminta membeli pedang seharga Rp 1 juta. Namun bagi jemaah yang tidak membeli, diminta menyiapkan senjata dari rumah. Para jemaah diminta tinggal untuk berlindung di pondok pesantren tersebut.

Kabar lain menyebutkan, akan terjadi kemarau panjang selama 3 tahun mulai 2019-2021 yang akan mengakibatkan musim paceklik. Jemaah diminta menyetor padi (gabah) per orang sebanyak 500 Kg. Kabar tersebut Juga disertai pengakuan adanya siswa kelas 5 SD di pondok tersebut yang dibawa pulang orang tuanya.

Bocah tersebut mengatakan kepada orang tuanya kalau nantinya saat musim paceklik, kakak akan memotong dan memakan tangan adiknya. Jemaah juga diimbau untuk mengibarkan bendera tauhid.

Foto pengasuh dijual seharga Rp 1 juta sebagai pusaka antigempa. Anak usia sekolah tidak boleh sekolah, karena ijazah tidak berguna. Anak menghukumi kafir orang tuanya, jika tidak berbaiat toriqoh.

Atas kabar tersebut Romli menegaskan bahwa kabar tersebut sengaja digoreng sehingga membuat sebagian masyarakat resah. Namun pihaknya tidak membantah kalau toriqohnya mengajarkan tentang kiamat, sebagaimana dalam Alquran dan Assunnah.

Pondoknya juga menjalankan program tiga bulanan, yang dimulai dari Rajab, Sya'ban dan Ramadan. Tetapi sama sekali tidak memerintahkan jemaah toriqohnya untuk menjual aset untuk diserahkan ke pondok.

"Jadi di pondok kami sudah 3 tahun berjalan, triwulanan untuk menyongsong meteor. (Sebagaimana Alquran dan hadis) 10 dari tanda besar kiamat itu meteor. Artinya, kita ini diperintah oleh Alquran, 'Maka tunggulah atau cintailah hari di mana hal itu akan terjadi yang 40 hari 40 malam gelap gulita'. Itu ada haditsnya semua," terangnya.

"Maka karena kita ini sudah belajar atau mempelajari tentang huru-hara akhir zaman, itu kita jalankan," jelasnya.

Program tersebut sudah berjalan selama 3 tahun. Tahun pertama dan kedua, jemaah diminta membawa mie instan. Namun karena semakin banyak jemaah yang bergabung akhirnya dibentuk panitia yang menghitung nilai biayanya.

"Bagi mereka yang mau ikut triwulanan untuk menyongsong itu, maka kami hitungkan (nilainya). Karena ada hadits kalau itu terjadi, 'Anda harus siap makanan satu tahun', minim itu," tegasnya.

"Makanya setiap orang, kalau mau mengungsi ke pondok itu diwajibkan untuk membawa makanan sendiri-sendiri. Itu dirumuskan, akhirnya 5 kwintal per kepala. Itu untuk dia sendiri kalau terjadi meteor. Kalau tidak terjadi, maka selesai Ramadan dibawa pulang sendiri-sendiri. Itu sudah 3 tahun, berjalan" jelasnya.

Sebagai pengasuh pondok, tentu tidak tahu asal usul atau sumber perbekalan santrinya dari rumah. Termasuk kalau harus menjual sapi atau lainnya untuk mengikuti jemaah toriqoh.

"Jadi kalau dikatakan disuruh menjual aset terus diberikan pada kyai, masya Allah sangat kejam," tegasnya.

Sementara itu, selama memberikan keterangan Romli didampingi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) setempat dan Kopolres Batu.

Rekomendasi