Berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian (hate speech) di media sosial (medsos) memiliki dampak luar biasa. Terlebih menjelang Pilpres 2019, dikhawatirkan dapat memecah belah keutuhan masyarakat.
"Saya kira berkembangnya hoaks ini bagi media mainstream sebenarnya sebuah berkah juga. Artinya masyarakat bisa terbuka matanya, mana sebenarnya pers yang profesional dan mana pers yang tidak profesional," ujar Ketua Dewan Pengawas Forum Pemred Suryopratomo dalam keterangannya, Minggu (17/2).
Menurut Tommy, panggilan karib Suryopratomo, kondisi ini menjadi tantangan bagi media mainstream bagaimana meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam membuat berita. Itu harus dilakukan dan bukan hanya dengan menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang harus dipenuhi, tetapi juga kedalaman investigasi dalam mencari kebenaran.
Ia menilai, berita itu bukan hanya sekadar untuk memuaskan para pembuat beritanya, tetapi juga harus memberikan manfaat kepada masyarakat sehingga terbuka informasi dan wawasannya, serta bisa mengerti duduk perkaranya.
"Itulah tantangan pers di media mainstream di tengah menjamurnya media online. Kalau media atau pers bisa mempertahankan tantangan itu dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya maka lama-lama akan meningkat lagi kepercayaan publik terhadap media mainstream itu," jelas Tommy.
Dengan demikian, ia menegaskan bahwa keberadaan medsos jangan dilihat sebagai ancaman, pun juga jangan dipandang medsos akan menggantikan peran media mainstream. Dalam pandangannya, sepanjang medsos itu tidak bisa melakukan verifikasi sehingga tidak mampu memberikan informasi berkualitas.
"Kita ini hidup di era teknologi informasi di mana semua orang butuh informasi, tetapi mereka butuh informasi yang berkualitas. Inilah saya kira tanggung jawab dari pers sekarang ini," tuturnya.
Ia menambahkan, pers harus memegang prinsip untuk melakukan verifikasi. Namun pers harus bisa membuat berita cepat dan benar sebagai unsur paling dasar dari jurnalistik. Dan itu harus dipegang teguh.
Tommy memperkirakan bahwa dunia pers akan terus berkembang dan masyarakat juga akan terus membandingkan antara media mainstream dan medsos. Selain itu masyarakat juga ingin sesuatu yang baru sehingga perlu lebih inovatif dan kreatif.
"Sekali lagi, prinsip-prinsip dasar jurnalistik itu tidak akan pernah berubah. Jadi kebenaran, akurasi, itu tidak akan pernah berubah. Zaman boleh berubah, tetapi prinsip-prinsip jurnalistik itu yang harus kita pertahankan dan pegang teguh," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa berita yang baik itu adalah berita yang terverifikasi dengan benar dan memiliki basis data yang kuat serta logikanya jalan dan memberikan sesuatu bermanfaat bagi pembaca. Namun ia tidak menyangkal, saat ini yang terjadi media mainstream justru terbawa arus oleh medsos.
"Itu kan terbalik. Mereka itukan sekadar mendengar lalu naikkan. Kalau di media mainstream kan bukan sekedar upload atau naik, tetapi 5W + 1H, itu kan yang diperhatikan. Bukan sekedar who and why, tetapi so what, untuk apa peristiwa itu yang menjadi berita harus ada manfaatnya untuk pemirsa dan pembacanya," tandasnya.