Perwira TNI, Komandan Koramil 10 Balimbingan/Kodim 0207/Simalungun Kapten I Infanteri Leo Sianturi viral di media sosial karena tidak diperlakuan tidan baik oleh Rumah Sakit Tentara di Jalan Gunung Simanuk-manuk, Pematang Siantar, Provinsi Sumatera Utara. Dia mengamuk dan meminta tolong kepada Presiden Jokowi atas perlakuan tidak menyenangkan yang dia terima.
"Pak Presiden, tolong Pak Presiden. Saya tentara yang dari masyarakat akan kembali ke masyarakat. Sakit hati saya. Saya sakit tidak ada diopname, diopname tidak layani. Saya kecewa dengan RS tentara, kecewain pelayanan tidak bisa," kata Leo dalam video yang beredar di media sosial, Senin (28/1).
Karena video menjadi viral, pihak rumah sakit memberikan klarifikasi dan berikut kronologi kejadian sebenarnya yang dialami oleh perwira TNI, Kapten Leo Sianturi:
Advertisement
Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kapendam) I/Bukit Barisan Kolonel Inf Roy Hansen Sinaga menyebut sikap emosional Kapten Leo dipicu oleh kesalahpahaman dengan pegawai rumah sakit. Ia menuturkan bahwa kemungkinan sang kapten marah karena sedang dalam keadaan sensitif saat ditanya mengenai siapa yang akan mendampingi untuk mengambil makanan dan menjaganya selama dirawat.
"Jadi ini hanya salah paham saja. Beliau mungkin lagi naik darah tingginya," kata Kolonel Roy.
Advertisement
Komandan Detasemen Kesehatan Wilayah Pematang Siantar Letkol CKM Suhartono menegaskan Rumah Sakit TNI Pematang Siantar memberikan layanan standar sesuai prosedur kepada semua pasien. Apalagi kepada pasien TNI.
"Penyataan Kapten Leo Sianturi itu tidak benar. Pasien yang dirawat itu apalagi militer dirawat sesuai prosedur. Tidak ada pasien yang kami telantarkan," kata Komandan Dankesyah Letkol CKM Suhartono.
Kemudian Letkol CKM Suhartono mengatakan jika Kapten Leo meminta untuk dipindahkan ke rumah sakit lain yakni Rumah Sakit Vika Insani. Pihak rumah sakit membantu untuk memindahkan Kapten Leo ke RS Vika Insani.
"Kemudian meminta agar dipindahkan ke Rumah Sakit Vika Insani. Kami sudah berupaya untuk merawat dengan baik, kemudian kalau dia pindah juga kami fasilitasi, tapi pada kenyataannya tidak mau difasilitasi. Kita antar kita beri pelayanan mau di ruang mana yang nyaman. Diurus administarsi Vita Insani, sampai dia masuk ke ruangannya," jelas Letkol Suhartono.
Advertisement
Sementara itu perawat yang merawat Kapten Leo yang bernama Dewi mengatakan tidak berniat untuk menyinggung perasaan Kapten Leo. Menurut Dewi, dia hanya bekerja menurut SOP yang berlaku, saat itu dia menanyakan keberadaan keluarga pasien dan ternyata itu yang membuat Leo tersinggung.
"Saya memang menanyakan siapa yang menunggu bapak? Kenapa tidak ada yang menunggu dan saya tanya juga ibu di mana? Dijawab Pak Sianturi memang saya sudah cerai. Beliau enggak terima, karena merasa tersinggung karena saya menanya tentang keluarganya. Bapak itu turun dari tempat tidurnya dengan memakai tongkat, kemudian keluar walau kami tahan tidak mau bapak itu tetap keluar," jelas Dewi.
"Tidak ada yang mengucapkan pasien tanpa keluarga tidak boleh dirawat," kata Dewi.