Meski pernah mengalami kecelakaan hingga kaki kirinya diamputasi akibat ditabrak saat melakukan selebrasi usai mencapai garis finish di Asia Road Racing Championship 2015 silam. Hal itu tidak membuat kapok mantan pebalap andalan Indonesia Muhammad Fadli Immammuddin yang kini kembali mewarnai dunia olahraga Indonesia. Bukan dengan motornya, tapi sepedanya.
Fadli sapaan akrabnya kini tergabung dalam Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Para Cycling untuk mewakili Indonesia di ajang Asian Para Games Oktober mendatang. Menjadi seorang atlet para cycling tentu bukan tanpa alasan. Ia pun berbagi kisah kepada merdeka.com saat jatuh hati dengan balap sepeda.
"Ketika kaki saya masih tongkat dua, ya memang basicnya saya enggak bisa diam, saya ngelihat sepeda di rumah pas awal amputasi sudah kesal banget pengen buang saja itu sepeda. Ngapain enggak bisa dipakai lagi kan. Tapi ternyata saya mencoba bersepeda keliling komplek, makin jauh-makin jauh, jadi jatuh cinta," ceritanya.
Atlet Para Cycling, Muhammad Fadli Immammuddin ©2018 Merdeka.com
Menurut Fadli, tidak ada seseorang yang kehilangan anggota tubuhnya lalu merasa biasa-biasa saja. Semua pasti merasa terpuruk termasuk dirinya.
"Tapi saya mikir lagi, ini saya mau sampe kapan? Dan saya ga pernah mikir muluk-muluk saat diamputasi wah saya harus jadi atlet, saya harus balap motor lagi, engga," kenangnya.
Saking asyiknya latihan sepeda, saat bermain di Yogyakarta pun, ia berkeliling menggunakan sepeda bersama teman-temannya. Hingga akhirnya suatu ketika ia mengunggah aktivitas bersepedanya di media sosial pada 2017, Fadli mendapat tawaran coach Puspita untuk menjadi atlet para cycling pertama di Indonesia.
Atlet Para Cycling, Muhammad Fadli Immammuddin ©2018 Merdeka.com
"Pada saat itu saya enggak mikir lama-lama, saat itu juga saya mau. Itu pada tahun 2017 awal. Kenapa saya terima? Karena pertama saya selama ini latihan otodidak, terus ditawari pelatih sepeda kenapa enggak saya terima, minimal walaupun saya enggak improve di sepeda tapi saya bisa mendapatkan stamina yang bagus dan bisa balapan motor lagi pikiran saya pada waktu itu. Tapi ternyata kecemplung di para cycling sampai saat ini saya sangat suka sekali," kenangnya.
Mumpung masih terbilang muda di usianya yang menginjak 30 tahun, Fadli merasa masih memiliki jiwa kompetisi yang berapi-api. Meski tidak bisa mengikuti kompetisi di motor, tapi ia masih bisa berkompetisi di para cycling.
Kompetisi balap sepeda yang pertama kali ia ikuti adalah Kejuaraan Balap Sepeda Asia 2017 di Bahrain dengan menempati posisi keempat nomor Individual Time Trial (ITT) kelas C4. Kedua, Asean Para Games 2017 di Malaysia berhasil meraih dua perak dan dua perunggu. Ketiga, Asian Cycling Championship di Myanmar pada Februari 2018 Fadli berhasil menjadi juara pertama dengan kecepatan 41 km/per jam di nomor ITT 22 km C1-5.
Hingga akhirnya pengalaman-pengalaman kompetisi tersebut, membawanya masuk dalam training camp dan Pelatnas di Solo untuk Asian Para Games 2018. Bagi Fadli, meskipun menjadi penyandang disabilitas tapi ia dan teman-temannya mempunyai kesempatan dan hak yang sama, untuk mengharumkan Indonesia.
Advertisement
Atlet Para Cycling, Muhammad Fadli Immammuddin ©2018 Merdeka.com
"Ternyata di luar banyak orang-orang disabilitas yang menutup diri. Harapan saya pengen mereka keluar, mereka aktif dan dengan adanya momen pertama kali di Indonesia yaitu Asian Para Games saya ingin orang-orang disabilitas membuka mata bahwa mereka punya kesempatan," harapnya.
Fadli kembali bercerita ada seorang bapak dari Yogyakarta yang mengirim pesan lewat akun Instagramnya di mana bapak itu memiliki anak perempuan berumur 10 tahun dan hobi berenang, namun kaki kanannya harus diamputasi karena kanker tulang.
"Saya sampai diminta kirim video untuk kasih semangat ke anaknya. Bahwa intinya kamu adalah calon atlet untuk paralimpik. Jadi setelah kamu diamputasi, saya akan bawa kamu ke NPC Jogja lalu ke pusat untuk berlatih renang," katanya dalam video.
"Menonton Asian Para Games digratiskan untuk orang-orang disabilitas jadi mereka punya antusias dan punya bayangan ke depannya akan mau seperti apa. Jadi enggak habis masa depan karena kaya gitu loh, masa depan bisa kita yang bikin kesempatan sebenarnya," harap Fadli.