Pemprov DKI Jakarta kaji teknologi ubah sampah jadi listrik

Dengan teknologi tersebut, sampah bisa diubah menjadi energi listrik hingga berkekuatan 165 Megawatt. Pengolahan sampah juga bisa menghasilkan tiga level air, yakni air minum untuk dikonsumsi, air aki, dan air infus.

Fikri Faqih
Oleh Fikri Faqih - Reporter
Pemprov DKI Jakarta kaji teknologi ubah sampah jadi listrik
Sampah Bantargebang. ©2016 Merdeka.com/adi nugroho

Persoalan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, belum tertangani maksimal. Volume sampah yang masuk mencapai 7.000 ton per hari membuat tumpukan di atas lahan 110 hektare itu kian menggunung.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menerima pemaparan dari PT Multi Energi Terbarukan (PT MET) yang mengajukan ide terkait pengelolaan sampah di TPST Bantargebang. Pengolahan sampah menggunakan teknologi quasi pyrolysis.

Dengan teknologi tersebut, sampah bisa diubah menjadi energi listrik hingga berkekuatan 165 Megawatt. Pengolahan sampah juga bisa menghasilkan tiga level air, yakni air minum untuk dikonsumsi, air aki, dan air infus.

"Pada prinsipnya jika investasi teknologi ini disetujui, akan memberikan dampak positif yang lebih signifikan ketimbang dari model yang dijalankan saat ini," kata Direktur Utama PT MET, Yusra Abdi usai pemaparan di Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Jumat (13/7).

Sementara itu, Pemda DKI masih akan melakukan kajian. Sekali pun teknologi itu sudah diterapkan di sejumlah negara di Eropa.

"Lihat dari paparan semua baik, menampilkan yang terbaik. Tapi belum kami kaji. Kami akan mengikuti keputusan Pemprov DKI," kata Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Barat, Rohim.

Rekomendasi