Buya Syafii Maarif: Wartawan harus independen dan idealis

Buya sedih jika wartawan dan media dikuasai pengusaha. Dia khawatir wartawan kehilangan independensi. Padahal, independensi dan idealisme penting untuk mendidik rakyat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Buya Syafii Maarif: Wartawan harus independen dan idealis
Buya Syafii Maarif meluncurkan buku berjudul Ahmad Syafii Maarif Sebagai Jurnalis. ©2018 Merdeka.com

Buya Syafii Maarif meluncurkan buku berjudul "Ahmad Syafii Maarif Sebagai Jurnalis" di Hotel Grand Quality, Sleman, DIY, Sabtu (23/2) malam. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan mantan Ketua PP Muhammadiyah ini yang dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah.

"Saya hargai (pembuatan buku ini). Dari puluhan tulisan yang saya ga ingat lagi. Tulisan saya kemudian ditampilkan kembali oleh tim sejarawan Suara Muhammadiyah," ujar Buya Syafii Maarif di acara Gala Dinner peluncuran bukunya.

Lewat buku tersebut, Buya bisa membandingkan perjalanan hidupnya. Lewat tulisan-tulisannya tersebut, Buya bisa melihat perjalanan pemikirannya dari masa ke masa.

"Saya bisa bandingkan dulu saya masih ingusan. (Ini) berguna untuk melihat perjalanan pemikiran (dari masa ke masa)," ungkap Buya.

Saat peluncuran bukunya, Buya pun menyempatkan diri untuk mengomentari perkembangan dunia pers saat ini. Menurutnya saat ini bisnis media sudah lebih baik dari masa sebelumnya. Selain itu Buya juga menilai pengetahuan wartawan saat ini pun juga lebih baik dibandingkan sebelumnya.

"Yang kadang saya sedih wartawan kalau media dikuasai pengusaha. Agak sedikit khawatir. Kehilangan independensi. Jagalah itu untuk mendidik rakyat. Independensi itu penting. Orang harus berpikir jernih. Harus fair," urai Guru Besar UNY ini.

Buya meminta agar media saat ini bisa berkaca dari Harian Indonesia Raya yang dibuat oleh Mochtar Lubis. Buya berharap sosok Mochtar Lubis bisa menjadi teladan bagi para pemilik media maupun wartawan.

"Pemimpin (media) harus punya integritas. (Mochtar Lubis) punya idelaisme tinggi sekali Walaupun resikonya ada. Mochtar Kubis ditahan dan dipenjara. Sekarang sudah ga ada lagi. Wartawan perlu belajarlah pada senior. Agar idealisme itu bukan idealisme musiman tapi bertahan lama," tutup Buya.

Rekomendasi