Calon Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Halid, bercita-cita menjadikan daerahnya sebagai provinsi yang terbaik. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di tingkat dunia.
Berbekal konsep ekonomi kerakyatan, Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia itu membuat rancang bangun menjadikan Sulsel sebagai pusat agrobisnis maupun agroindustri di Asia Tenggara.
Nurdin mengungkapkan Sulsel memang memiliki potensi menjadi pusat agrobisnis di Asia Tenggara. Pada masa lampau, sejarah mencatat Indonesia, termasuk Sulsel merupakan pusat perdagangan dunia. Banyak bangsa Eropa yang datang dengan niat awal berdagang, berubah menjadi menjajah setelah melihat melimpahnya sumber daya alam di Tanah Air.
"Cerita kejayaan Sulsel itu benar adanya, kita pernah menjadi pusat perdagangan dunia. Bangsa Eropa datang mulanya untuk berdagang dan akhirnya menjajah. Itu artinya Sulsel mempunyai potensi itu, makanya bersama Aziz (Qahhar Mudzakkar), saya ingin mengembalikan kejayaan Sulsel," ujar Nurdin, di Makassar, beberapa waktu lalu.
"Sulsel akan kami jadikan sebagai pusat agrobisnis dan agroindustri terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara," sambung Ketua Koordinator Bidang Pratama DPP Golkar itu.
Nurdin menuturkan upaya membangun Sulsel jadi pusat agrobisnis selaras dengan konsep dan program yang dicanangkannya. Dengan konsep Tri Karya Pembangunan, NH-Aziz memprogramkan sederet peningkatan infrastruktur di bidang pertanian dalam upaya mensejahterakan petani. Bahkan, pasangan nomor urut satu itu ingin mentransformasi Bank Pembangun Daerah untuk menopang sektor pertanian.
Nurdin menuturkan pilihan mengembangkan agrobisnis dan agroindustri di Sulsel sangatlah realistis. Harus disadari, masyarakat Sulsel kebanyakan bermata-pencaharian di bidang pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan. Didukung sumber daya alam dan sumber daya manusia konsep ekonomi kerakyatan yang jelas, NH-Aziz sangat optimistis mampu membangkitkan kejayaan Sulsel.
"Tidak ada pilihan lain, kita harus membangun sektor (agrobisnis dan agroindustri) tersebut. NH-Aziz memiliki keyakinan merealisasikannnya dengan basis ekonomi kerakyatan," pungkas mantan manager PSM Makassar itu.