Aktivitas erupsi Gunung Agung kembali meningkat setelah terjadi gempa tremor hingga overscale terjadi secara menerus dalam beberapa menit, Rabu (6/12). Gempa magmatik dengan kekuatan 4.1 SR tercatat bersumber di 48 kilometer barat laut wilayah Karangasem, berada di kedalam 10 km pada pukul 10.58 WITA.
Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulakonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syabana mengatakan, bahwa suplai magma saat ini terus tumbuh ke permukaan.
Menurutnya aktivitas tinggi Gunung Agung diindikasikan dengan masih terekamnya kegempaan vulkanik dalam. Yang artinya kata Devy masih ada tekanan berlebih di Gunung Agung.
Selain gempa vulkanik dalam, Devy menyebut seismograf yang dipasang di sekeliling Gunung Agung juga masih merekam adanya gempa frekuensi rendah yang mengindikasikan terjadinya pertumbuhan lava di permukaan.
Menurutnya, gempa frekuensi rendah terekam masih amat banyak. "Kemarin perekaman gempa low frekuensi terbanyak yakni 44 kali. Sekarang dalam 12 jam terakhir sudah ada 17 gempa low frekuensi, gempa vulkaniknya 11 kali. Salah satu indikasi lain bahwa Gunung Agung masih pada masa kritis," papar dia di Pos Pengamatan Gunung Agung di desa Rendang.
Menurutnya, gempa tektonik lokal yang terekam bukan gempa yang disebabkan oleh pergeseran sesar. "Yang terjadi itu tergantung posisinya di mana. Tapi itu adalah stres yang dilepaskan oleh sesar. Tapi sumber sesarnya sendiri masih dalam kaitannya dengan aktivitas Gunung Agung. Stres itu bisa terbentuk karena adanya tekanan dari magma," jelas dia.