Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan belajar selesaikan konflik ke Aceh

Pemerintah Afghanistan melalui Deputy High Peace Council (Deputi Dewan Perdamaian Tinggi) mengunjungi Aceh untuk mempelajari penyelesaian konflik. Delegasi pemerintah Afghanistan ini diterima Pemerintah Aceh dan sejumlah tokoh mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di kantor Gubernur, Jumat (24/11).

Afif
Oleh Afif - Reporter
Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan belajar selesaikan konflik ke Aceh
Aceh. ©2012 Merdeka.com/sapto anggoro

Pemerintah Afghanistan melalui Deputy High Peace Council (Deputi Dewan Perdamaian Tinggi) mengunjungi Aceh untuk mempelajari penyelesaian konflik. Delegasi pemerintah Afghanistan ini diterima Pemerintah Aceh dan sejumlah tokoh mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di kantor Gubernur, Jumat (24/11).

Hadir dalam pertemuan itu sejumlah tokoh juru runding GAM, yaitu Bachtiar Abdullah, Munawar Liza, Teuku Hadi dan Sakdiah Marhaban. Di depan mantan juru runding GAM, Deputi Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan Habiba Sarabi mengaku dapat memetik pelajaran serta pengalaman dari mereka, sehingga bisa diimplementasikan untuk menuju perdamaian di Afghanistan nantinya.

"Apa yang telah saya dapatkan hari ini dari mereka, akan saya bawa pulang kembali ke negara saya. Sehingga apa yang telah kami diskusikan tadi dapat diterapkan dalam proses perdamaian yang akan di bangun nantinya," kata Habiba Sarabi.

Mantan gubernur wanita pertama itu menilai, Aceh dan Afghanistan memiliki banyak persamaan, sehingga dia mengunjungi Serambi Mekkah yang pernah dilanda konflik selama sekitar 30 tahun silam.

"Kami telah melalui 40 tahun konflik ini merupakan jangka waktu yang lama. Kami melihat Aceh juga telah melalui satu proses konflik yang lama, jadi pengalaman yang digunakan di Aceh ini dapat kami mamfaatkan di Afghanistan nantinya," ujar Habiba Sarabi.

Ia menjelaskan, konflik yang terjadi di negaranya disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya persoalan perbedaan antara nilai-nilai keagamaan serta aktor-aktor politik yang ada di sana. Alasan memilih Aceh adalah ingin melihat bagaimana para mantan juru runding perdamaian yang di Aceh melalui proses semua itu hingga damai.

"Itulah inti kami datang ke Aceh untuk belajar bagaimana proses negosiasi dari pada para mantan perundingan GAM," sebutnya.

Habiba menambahkan, yang menjadi puncak konflik di Afghanistan adalah akibat campur tangan para penguasa politik dari luar negara. Sehingga hal inilah yang menjadikan rumitnya proses perdamaian berlangsung.

"Campur tangan pihak luar ini sebenarnya yang menimbulkan konflik. Karena mereka membuat masalah internal di antara aktor-aktor di Afghanistan. Apabila konflik terus berlalu maka kesejahteraan masyarakat akan menurun dan kemiskinanpun akan meningkat," tegasnya.

Rekomendasi