Anak putu (trah) Bonokeling punya cara tersendiri untuk menentukan awal Ramadan atau bulan puasa. Berdasarkan perhitungan penanggalan Jawa di mana 2017 ini masuk dalam tahun Jim, awal puasa ditentukan Sabtu Pon atau Sabtu (27/5).
Kesepuhan (ketua adat) anak putu Bonokeling, Ki Sumitro mengatakan penggunaan perhitungan Jawa sudah dilakukan sejak turun temurun. Penanggalan Jawa pun punya kurun waktu tersendiri yakni satu windu terdiri atas tahun Alif, Ha, Jim, Awal, Za, Dal, Ba, Wawu dan Jim Akhir. Dari hitungan, puasa bagi trah Bonokeling akan jatuh pada malam Sabtu Pon (27/5) sehingga puasa mulai dilakukan pada Minggu (28/5).
"Memang biasa, jatuhnya puasa bagi trah Bonokeling berselisih hari dengan yang ditetapkan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Tapi ini tak perlu diperdebatkan," kata Sumitro.
Warga Bonokeling menyambut puasa dengan ritual unggahan selamatan jelang puasa di Desa Pukencen, Kabupaten Banyumas, pada Jumat (19/5). Tujuannya selain ziarah makam leluhur yang dilakukan berjalan kaki puluhan kilometer juga untuk melakukan bersih diri dan lingkungan.
Terkait bersih diri, para trah bonokeling selalu melakukan laku tapa brata. Laku ini jenisnya macam-macam, mulai dari puasa mutih, puasa asrep sampai puasa Senin Kamis. Selain itu pembersihan makam leluhur dan lingkungan desa akan dilakukan selama sepekan mulai Jumat (19/5) sampai Jumat (26/5).
"Umumnya trah bonokeling tapa bratanya puasa Senin Kamis. Tapi ada juga yang puasa mutih, berbuka dengan nasi saja, atau asrep berbuka dengan sayur tapi tak berbumbu. Ini laku membersihkan diri dan bisa dimulai sejak sebulan atau seminggu sebelum jatuh puasa," kata Mitro.
Pantauan Merdeka.com, pada Jumat (19/5) bersih lingkungan adat memang sudah dilakukan. Hal ini nampak saat dilakukan bersih-bersih pada gembyong atau kebun yang dipadati pohon-pohon usia ratusan tahun. Para trah bonokeling membersihkan gembyong dengan mengumpulkan daun-daun kering yang berjatuhan di tanah.Laku bersih makam leluhur Ki Bonokeling sendiri juga akan dilakukan pada Senin (23/5) setelah tradisi unggahan rampung digelar.
Hanya untuk trah bonokeling di Adipala, cilacap masih menyisakan satu prosesi ritual. Juru kunci anak putu bono keling Desa Adiraja, Sejadi Wirya (57), khusus di Adiraja masih akan dilakukan ritual jalan kaki berziarah ke kendran (tempat peristirahatan ki Bonokeling) di bukit kecil desa setempat.
"Di kendran pada Jumat akhir sebelum puasa kami lakukan bersih makam. Ini bagian cara kami untuk menyucikan diri sambut bulan puasa," kata Sejadi Wirya.