Sejak Kamis (13/4) lalu, petilasan Dampu Awang di Desa Sudimampir, Kecamatan Balongan, Indramayu ramai didatangi warga. Mereka penasaran dan ingin melihat langsung Mbah Fanani, petapa yang dianggap saksi dari Dieng, Jawa Tengah.Petilasan Dampu Awang terletak di tengah sawah. Jalan menuju lokasi berlumpur dan hanya muat satu mobil. Meski begitu, ratusan warga dari berbagai daerah di Indramayu dan Cirebon terus mendatangi petilasan ini. Bahkan rombongan pesantren dari Teluk Naga Tangerang juga datang ke sini.Petilasan ini lokasinya persis di bibir kali irigasi. Kali ini selebar lima meter di tengah-tengah persawahan. Terdapat sebuah sumur tua sedalam dua meter di area petilasan. Menurut warga sekitar, sumur itu tak pernah kering meski di musim kemarau.Di samping sumur dibangun langgar kecil berukuran 5 x 5 meter. Tiang dan usuk atap terbuat dari kayu. Cukup teduh dan sejuk di area petilasan ini. Langgar itu menghadap barat. Di sisi selatannya dibuat sebuah kamar berukuran 1,5 x 3 meter. Di atas pintu kamar terdapat tengkorak kepala kerbau dengan tandung sepanjang 90 cm. Di dalam kamar terbaring lemas Mbah Fanani dan Mbah Rojab yang biasa dipanggil Syekh."Syekh Rojab baru sampai sini pukul tiga Sore kemarin. Abah selama ini di Palangkaraya," ujar Gus Toha (45) anak ketiga dari Mbah Rojab.Gus Toha adalah orang yang mengaku diberi tugas oleh abahnya menjemput Mbah Fanani dari tenda pertapaannya di Dieng. Menurut Gus Toha, Mbah Rojab dan Mbah Fanani memiliki hubungan 'spesial'. Keduanya sering berkomunikasi lewat batin."Abah komunikasi dengan Mbah Fanani. Mbah Fanani bilang ke Abah, kalau Abah ke Kalimantan, nanti saya (Mbah Fanani) ke tempat Abah di Indramayu. Nah saya yang ditugasi menjemput. Jadi Mbah Fanani itu ke sini (Petilasan Dampu Awang) atas permintaan beliau sendiri. Bukan atas permintaan saya. Apalagi katanya diculik, gak benar itu," ujar Toha kepada merdeka.com di lokasi, Rabu (19/4).Gus Toha bercerita, Rabu (12/4) malam pukul 11 malam, dirinya dan rombongan sampai di pertapaan Mbah Fanani di Dieng. Saat itu dirinya dibantu beberapa orang termasuk dua anggota polisi untuk membawa Mbah Fanani. Saat tubuh Mbah Fanani akan dibopong, seorang sopir bernama Joni ikut membantu dengan masuk ke dalam tenda. Tanpa sengaja sopir itu menginjak ujung rambut Mbah Fanani yang panjangnya sekitar dua meter."Nah waktu rambut mbah keinjek, mbah bilang. Pelan-pelan dong," ujar Toha menirukan perkataan Mbah Fanani kala itu.Ucapan Mbah Fanani itu ternyata didengar warga sekitar. Warga sekitar pertapaan menduga Mbah Fanani dijemput secara paksa."Padahal (jemput paksa) itu tidak benar. Apalagi dibilang menculik. Kalau Mbah Fanani tidak berkehendak, mana mungkin rombongan bisa selamat sampai sini. Mbah Fanani itu orang saksi, bukan sembarang orang," terang Gus Toha.Kamis pukul lima pagi, rombongan Gus Toha yang membawa Mbah Fanani tiba di Petilasan Dampu Awang. Dan sejak kabar Mbah Fanani tiba, warga banyak yang datang dan meminta doa kepada Mbah Fanani."Mbah Fanani asalnya Cirebon. Beliau punya anak dan cucu. Saya kenal semua anak cucunya. Tapi Mbah Fanani pengennya tinggal di sini. Kemarin cucunya datang dan mau ngajak Mbah pulang, tapi Mbah gak mau. Mbah maunya di sini saja," terang Toha yang mengenakan baju koko putih lengkap dengan peci putih."Sedangkan Abah saya baru datang kemarin dari Kalimantan," terangnya lagi sambil memastikan Mbah Rojab dan Mbah Fanani sedang istirahat di kamar.Banyak warga datang dengan membawa air mineral dalam kemasan. Mereka berharap berkah dari Mbah Fanani dan Abah Rojab."Ya minta doa saja. Semoga semua selamat. Beli ana musibah (Tidak ada musibah)," ujar Badriyah (54) warga Tugu, Indramayu saat mendatangi petilasan.
Saat dijemput Mbah Fanani teriak karena rambutnya terinjak
Teriakan tersebut sempat dikira warga sekitar tenda pertapaan bahwa Mbah Fanani diculik atau dibawa paksa.
Rekomendasi