Akhir hidup tragis siswi SMK tenggak racun usai diintimidasi guru

Korban awalnya mengunggah postingan dugaan bocor kunci jawaban USBN yang dilakukan guru. Dia bersama kedua temannya lantas dipanggil guru. Namun diduga adanya intimidasi sampai membuat korban ketakutan hingga akhirnya menenggak racun tanaman.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Akhir hidup tragis siswi SMK tenggak racun usai diintimidasi guru
Ilustrasi mayat. ©2014 Merdeka.com

AN, siswi SMKN 3 Padang Sidempuan, Sumatera Utara mengakhiri hidup secara tragis. Dia menenggak racun tanaman lantaran ketakutan usai diintimidasi guru, gara-gara mengunggah curhatan ke media sosial terkait dugaan bocor kunci jawaban Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)."Diduga kuat korban merasa ketakutan setelah diintimidasi gurunya karena unggahan dan komentar korban dan dua teman lainnya di media sosial, terkait adanya dugaan kebocoran kunci jawaban USBN di sekolahnya yang dilakukan oknum guru SMKN 3 Padang Sidempuan," ujar Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti di Jakarta, Selasa (11/4).Dia mengatakan perasaan dirundung dan diancam ditentukan sendiri oleh perasaan anak bersangkutan. "Jadi ketika korban merasakan ucapan-ucapan gurunya saat memanggil dia dan dua teman lainnya akibat mengunggah kebocoran USBN di SMKN 3 Padang Sidempuan sebagai perundungan, maka rasa cemas, takut dan stres itulah penyebab korban memutuskan bunuh diri dengan menenggak racun," kata dia.FSGI mendesak polisi segera mengusut tuntas kasus ini. Secara kepegawaian, para guru harus diperiksa inspektorat berdasarkan PP 53/2010 tentang Disiplin PNS. Secara hukum juga harus diproses dengan dugaan pelanggaran Undang-Undang 35/2014 tentang Perlindungan Anak.Kasus ini juga menjadi perhatian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Dia menginstruksikan bawahannya untuk melakukan penyelidikan."Kami sudah menugaskan staf untuk menyelidiki duduk permasalahannya," ujarnya.Dikutip dari Antara, secara terpisah Irjen Kemdikbud Daryanto menyayangkan korban bunuh diri karena merasa ketakutan. Seharusnya penanganan terhadap murid lebih bijak, karena ada anak yang memiliki mental yang bagus, namun ada juga anak yang memiliki mental yang kurang bagus."Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bersama. Jika terbukti nanti memang ada yang bersalah, tentunya kami akan menjatuhi sanksi tegas," cetus Daryanto.

Rekomendasi