Cerita miris TKI Sri Rabitah, kehilangan ginjal saat kerja di Qatar

Sungguh miris dan memprihatinkan nasib yang menimpa Sri Rabitah (25), TKI asal Dusun Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara. Dia harus hidup dengan satu ginjal usai bekerja di Doha, Qatar.

Muhammad Sholeh
Oleh Muhammad Sholeh - Reporter
Cerita miris TKI Sri Rabitah, kehilangan ginjal saat kerja di Qatar
Sri Rabitah TKI. ©2017 Merdeka.com

Tak sedikit cerita miris dialami Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara tempatnya bekerja. Mulai dari penganiayaan oleh majikan, hingga organ tubuhnya hilang dan baru ketahuan beberapa tahun kemudian setelah pulang ke Indonesia.Sungguh miris dan memprihatinkan nasib yang menimpa Sri Rabitah (25), TKI asal Dusun Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara. Dia harus hidup dengan satu ginjal usai bekerja di Doha, Qatar. Manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak di belakang perut dan terletak di kanan dan kiri tulang belakang, di bawah hati dan limpa. Ginjal kanan biasanya terletak sedikit di bawah ginjal kiri untuk memberi tempat untuk hati.Sebagian dari bagian atas ginjal terlindungi oleh iga kesebelas dan duabelas. Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak yang membantu meredam goncangan. Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Sungguh amat penting fungsi ginjal dalam organ manusia. Tentu sangat menyedihkan jika manusia tidak memiliki atau kehilangan salah satu ginjalnya. Diduga, ginjal Sri Rabitah diambil saat bekerja di Doha, Qatar.Kejadian bermula saat Sri baru saja pulang dari Malaysia dan ditawari buat bekerja di Abu Dhabi oleh seorang perempuan bernama Ulfah. Di tahun 2014 itu, Sri kemudian dibawa oleh perempuan yang beralamat di Batu Keruk Akar-akar itu melaksanakan cek kesehatan di Mataram.Setelah dinyatakan lulus cek kesehatan, Sri dibawa ke PT BLK-LN Falah Rima Hudaity Bersaudara di Jakarta untuk menjalani pelatihan untuk penempatan di Abu Dhabi. Pada 27 Juni 2014, Sri bersama 22 orang lainnya diberangkatkan menuju Abu Dhabi.Namun Sri justru dikirim ke Doha, Qatar. Di sana dia bekerja pada majikan bernama Madam Gada. Setelah satu minggu bekerja, Sri dibawa oleh sang majikan untuk melaksanakan pemeriksaan kesehatan karena dianggap lemah.Sri dibawa ke ruang operasi dengan alasan untuk mengangkat penyakit. Sri lantas disuntik hingga tak sadarkan diri. Setelah seminggu pelaksanaan operasi, Sri dikembalikan ke PT Aljajira Qatar karena dianggap tidak bisa bekerja dan lemah sebagai asisten rumah tangga.Sesampainya di PT tersebut Sri mengalami tindakan kekerasan karena dianggap tidak bisa bekerja. Sri pun dipindah-pindah kerja dengan alasan PT tidak mau tahu Sri harus bekerja.Sri akhirnya dikirim pulang dengan tidak digaji dan hanya sampai Surabaya. Setibanya di Surabaya, Sri dibantu oleh seseorang dan dipulangkan ke Lombok.


Sri Rabitah TKI ©2017 Merdeka.com


Sekitar Juli 2014, Sri sampai di rumah dan beraktivitas seperti biasa. Namun Sri sering mengalami sakit sakit. 3 tahun kemudian tepatnya Februari 2017, Sri melakukan cek kesehatan ke RSUD Tanjung.Setelah diperiksa dan melihat hasil rongen, ternyata ginjal sebelah kanan Sri tidak ada dan sudah diganti dengan pipa plastik. Saat ini Sri sedang menunggu jadwal operasi untuk mengangkat pipa yangg ada di tubuhnya.Secara terpisah, Direktur Mediasi dan Advokasi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Wisantoro menegaskan, pihaknya berjanji segera mengusut kasus Sri Rabitah (25), TKI yang mengaku kehilangan ginjal kanannya usai bekerja di Doha, Qatar. BNP2TKI mengirimkan staf untuk mengecek langsung kondisi dari Sri Rabitah."Petugas kami ada yang ke rumah korban, untuk mengetahui sejauh apa," papar Wisantoro kepada merdeka.com di kantor BNP2TKI, Senin, (27/02).Menurut Wisantoro, selain mengirimkan staf ke rumah Sri, BNP2TKI juga akan memanggil perusahaan yang memberangkatkan Sri yang dijadwalkan esok hari. Jika memang hal ini benar-benar terjadi, BNP2TKI berjanji akan memfasilitasi dalam proses penyelesaiannya."Kita harus tahu kronologi dulu dari cerita dan fakta, yang akan kita koordinasikan dengan perwakilan RI kita. Kita akan tetap melakukan pembelaan dan dengan batas kewenangan, kalau ini kewenangannya Kemenlu tentu kita akan kerjasama," ungkapnya.Sedangkan perusahaan penyalur Sri Rabitah, PT Falah Rima Hudaity Bersaudara kini berganti nama menjadi PT Panca Banyu Ajisakti. Bekas karyawan PT Falah Rima Hudaity Bersaudara, Muhamad, yang kini bekerja di PT Panca Banyu Ajisakti mengatakan, jika kasus hilangnya ginjal TKI yang perusahaan berangkatkan baru kali ini terjadi."Ini kasus ginjal baru pertama terjadi," ungkapnya kepada merdeka.com di kantor PT Panca Banyu Ajisakti, Senin, (27/02).

Sri Rabitah ©2017 Merdeka.com


Muhamad juga mengaku baru saja mengetahui kasus yang menimpa Sri. Dia mendapatkan info terkait kasus Sri dari beberapa media yang mengabarkan kasus hilangnya ginjal dari TKI yang bernama Sri.Menurut dia, alasan perusahaannya berganti nama karena Surat Izin Usaha Pendirian (SIUP) perusahaan dicabut oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. "Pencabutan SIUP dari Kemenaker 2016," katanya.Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay mengaku sangat prihatin dengan nasib yang dialami Sri Rabitah (25) ini. Dia mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas atas dugaan perdagangan manusia yang menimpa Sri."Jika betul bahwa dia kehilangan ginjal karena 'diambil' oleh majikannya, pemerintah harus mengambil tindakan tegas. Modus seperti ini tentu sangat menyedihkan, mengkhawatirkan, dan memprihatinkan. Tidak ada jaminan keselamatan dan perlindungan TKW kita di luar negeri," kata Saleh kepada merdeka.com, Senin (27/2)."Ini tidak bisa dibiarkan. Walau hanya satu organ tubuh yang diambil, ini sama dengan human trafficking. Apa pun alasannya, modus seperti ini tidak bisa diterima. Tidak manusiawi," sambungnya.Politikus PAN ini menegaskan, BNP2TKI dan Polri seharusnya melakukan investigasi untuk menelusuri pihak-pihak yang terkait dengan masalah Sri. Saleh mendesak pemerintah menyelidiki perusahaan penyalur Sri, PT BLK-LN Falah Rima Hudaity Bersaudara, agen penempatan TKI di luar negeri serta majikan Sri di Qatar."BNP2TKI semestinya segera melakukan investigasi untuk menelusuri pihak-pihak yang terlibat. Mulai dari perusahaan yang memberangkatkan, agen penempatan di luar negeri, bahkan sampai majikan yang terlibat," tegasnya.

Rekomendasi