Rujak pedas khas Bali jadi kuliner wajib saat ke Pulau Dewata

Rujak pedas khas Bali jadi kuliner wajib saat ke Pulau Dewata. Bali memiliki kuliner khas rujak dengan berbagai variasi. Yang paling top adalah rujak kuah pindang.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Rujak pedas khas Bali jadi kuliner wajib saat ke Pulau Dewata
Rujak khas Bali. ©2017 Merdeka.com/gede

Masakan khas Bali memang dikenal serba pedas. Dari rasa ayam betutu hingga lawar Bali rasanya menyengat lidah. Namun kini mulai ramai di pasaran kuliner rujak yang diburu wisatawan domestik ataupun lokal Bali.Seperti halnya Warung rujak Men Runtu di Sanur dan Warung Rujak Ruci di Legian. Khas rujak yang disajikan cukup bervariasi. Bahkan sedikit pun tidak mengurangi selera rasa pedas dari adonan rujak di warung ini, di saat harga cabai melambung.Bukan hitungan jari lagi orang yang datang antre di tempat ini. Umumnya mereka yang datang sudah tentu mereka yang penggila rujak.Selain melayani olahan rujak, juga menjual bumbu botolan yang sudah siap saji untuk dibawa pulang. Ada rujak gula, rujak kuah pindang juga rujak sere atau terasi dan rujak boni dijual di warung ini.Warung Men Runtu yang lokasinya berada di Jalan Sekuta No 32C, Sanur, Denpasar, Bali adalah salah satu warung yang menyediakan aneka rujak khas Bali yang membuat lidah tak berhenti untuk terus menikmatinya.Di warung ini tersedia 15 macam rujak. Harga rujak di warung ini dari Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu.

Rujak khas Bali ©2017 Merdeka.com/gede

Gek Sakha pemilik warung Men Rutuh ini menjelaskan bahwa warungnya buka sejak tahun 2015 dan menjadi tujuan untuk yang suka menikmati rujak lokal khas Bali. "Saya mencari resepnya itu dari hasil tanya-tanya rujak khas Bali dengan sesama teman-teman yang suka pada rujak, dan saya mencoba untuk membuatnya dan ternyata banyak yang suka," ucapnya.Namun dari beberapa rujak yang ada, rujak kuah pindang yang paling laris. Rujak perpaduan kaldu ikan dan buah segar ini mampu membuat orang-orang terpesona. Belum lagi aroma dari terasi bakar dengan tambahan gula dan cabai sungguh terasa menggoda. "Kuah pindangnya saya dapat dari langganan dan dia yang membuatnya. Karena kalau bikin kuah pindang itu memerlukan banyak ikan. Saya pernah bikin pakai dua kilo ikan tapi tetap tidak terasa. Jadi saya pesan dari langganan dan rasanya cocok," terang Gek Sakha yang mengaku warung mulai buka pukul 10.00 WITA hingga jelang malam sekitar pukul 20.00 WITA.Melabungnya harga cabai saat ini dikatakan Sakha tidak berpengaruh terhadap olahan rujaknya. Termasuk soal harga rujak yang di jual."Mau gimana lagi, mungkin dari buahnya yang sedikit berkurang. Kalau cabai tetap saja sesuai kemauan pembeli, tidak masalah itu," tutupnya.

Rekomendasi