Seskab nilai dorongan sidang istimewa MPR tak wajar

Seskab nilai dorongan sidang istimewa MPR tak wajar. Pramono menegaskan pemerintah memang wajib dikritik. Namun kritik yang bersifat membangun agar terjadi perubahan ke arah yang lebih baik lagi.

Yayu Agustini Rahayu
Oleh Yayu Agustini Rahayu - Reporter
Seskab nilai dorongan sidang istimewa MPR tak wajar
Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung Wibowo. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Sekretaris Kabinet Pramono Anung Wibowo mengatakan, sebelas yang ditangkap atas dugaan makar berawal dari kritikan karena ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang ada. Pramono menilai bahwa kritik terhadap pemerintah adalah hal yang lumrah. "Indonesia ini negara demokrasi. Berbeda adalah hal yang biasa. Mengkritik itu biasa," kata Pramono, di Hotel Grand Sahid Jaya, Sabtu (10/12).Namun, menurut Pramono, dorongan untuk diadakannya sidang istimewa MPR merupakan hal yang luar biasa. Yang mana artinya jika diadakan sidang istimewa MPR saat ini tidak wajar dilakukan lantaran melihat kondisi pemerintahan yang saat ini relatif stabil."Tapi kalau kemudian kalau sudah mengambil langkah untuk mendorong sidang istimewa dan meminta untuk memakzulkan ini sudah luar biasa," tegasnya.Pramono menegaskan pemerintah memang wajib dikritik. Namun kritik yang bersifat membangun agar terjadi perubahan ke arah yang lebih baik lagi."Kalau kritik, ya pemerintah wajib dikritik karena kritik adalah obat, karena kritik akan makin kuat. Kritik itu bagus. Pemerintahan tanpa kritik itu tidak baik," pungkasnya.Sebelumnya, sebelas orang ditangkap polisi karena diduga ingin melakukan makar pada aksi 2 Desember 2016, kemarin. Saat ini tiga orang yang masih ditahan di Polda Metro antara lain Sri Bintang Pamungkas, Jamran dan Rizal Kobar. Sedangkan delapan orang lainnya sudah dilepas antara lain Ratna Sarumpaet, Rachmawati Soekarnoputri, Eko Suryo Santjojo, Adityawarman Thahar, Kivlan Zein, Firza Huzein, Alvin Indra dan Ahmad Dhani. Polisi juga menahan aktivis Hatta Taliwang terkait kasus dugaan makar.

Rekomendasi