Panglima TNI Gatot Nurmantyo menggagas aksi nusantara satu sebagai gerakan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta bentuk kecintaan pada Tanah Air. Masyarakat yang ingin ikut serta dalam aksi diimbau menggunakan ikat kepala merah putih pada 30 November mendatang.Waketum Partai Gerindra Arief Poyuono mengapresiasi gagasan Gatot itu. Namun, Arief menilai gagasan aksi nusantara satu disampaikan saat momentumnya kurang pas yakni jelang aksi bela Islam jilid III. Ini menimbulkan kesan aksi tersebut hanya rekayasa Gatot agar Presiden Jokowi senang."Hanya momen saja kurang tepat saat akan ada Aksi Bela Islam 3 tanggal 2 Desember. Mungkin kalau dilakukan dari dahulu misal setiap menjelang hari kebangkitan nasional atau bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila baru itu tidak tampak sebagai buat-buatan ya yang untuk menyenangkan hati Presiden Joko Widodo," kata Arief saat dihubungi merdeka.com, Jumat (25/11).Menurutnya, aksi tersebut menunjukkan kegagalan Gatot untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Sehingga, Gatot merasa perlu ada gerakan yang bisa memupuk rasa persatuan itu."Aksi Nusantara satu tidak beda kok dengan aksi mogok Nasional buruh 2 Desember untuk tetap menjaga dan meningkatkan kesejahteraan buruh yang terancam oleh PP 78 tahun 2015 tentang pengupahan," jelasnya."Nah aksi nusantara satu ini bentuk dari kegagalan Panglima TNI untuk tetap menjaga dan menciptakan persatuan dan kesatuan makanya perlu dibangkitkan kembali rasa persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia dari ancaman perpecahan," sambung Arief.Arief beranggapan persatuan warga negara terancam justru lebih banyak disebabkan karena masalah pemerataan ekonomi dan supremasi hukum yang belum terealisasi di Indonesia."Tapi sebenar nya kalau Panglima TNI cerdas awalnya sebuah persatuan dan Kesatuan nasional terancam itu lebih banyak disebabkan oleh persoalan pemerataan ekonomi di masyarakat dan keadilan hukum bagi masyarakat," tegasnya.Oleh sebab itu, dia berharap aksi nusantara satu bukan hanya perayaan atau gagasan belaka. TNI juga harus menunjukkan kerja nyata dalam menjaga persatuan dan kedaulatan NKRI."Ya harapan saya aksi Nusantara satu jangan hanya jadi romantisme saja tetapi realisasikan dengan kerja kerja TNI yang lebih bisa melakukan pembinaan territorial lah," pungkasnya.Sementara itu, Ketua DPP Partai Hanura Dadang Rusdiana menilai aksi nusantara satu yang digagas Gatot sebagai langkah yang positif."Ya sebagai upaya untuk memperkuat nasionalisme tentu harus kita respons dengan positif," kata Dadang.Menurutnya, upaya Gatot seperti langkah elite-elite partai politik yang berkonsolidasi meredam ketegangan akibat kasus penistaan agama dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Dadang mengakui kasus Ahok telah menimbulkan ketegangan di semua elemen masyarakat."Akhir-akhir ini kan dengan kasus ucapan Ahok yang mendapat respons negatif memunculkan ketegangan antar elemen bangsa ini, di tingkat elit maupun masyarakat," ujar Dadang."Ketegangan ini kan belum berakhir, makanya wajar kalau ada upaya komunikasi antar pemimpin parpol dan para tokoh masyarakat, termasuk upaya yang dilakukan oleh panglima TNI," sambung dia. Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sibuk memberikan penyadaran pentingnya rasa persatuan bangsa. Di pelbagai kesempatan, baik saat bertemu ulama hingga memberikan kuliah umum di kampus-kampus, Gatot selalu menyuarakan pesan persatuan dan kesatuan.Dengan kondisi saat ini di mana rakyat Indonesia rawan terpecah belah, Gatot menggagas aksi nusantara satu. Dia mengajak semua masyarakat di daerah masing masing serentak menggelar aksi nusantara pada 30 November 2016 sebagai bentuk kecintaan pada Tanah Air."Tanggal 30 pagi mari bersama sama dengan ikat kepala merah putih dengan judul nusantara satu. Temanya Indonesia milikku, Indonesia milikmu, Indonesia milik kita bersama," ujar Gatot di Gedung C Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat (24/11).
Aksi nusantara jangan cuma rekayasa agar Presiden senang
Aksi nusantara jangan cuma rekayasa agar Presiden senang. Waketum Partai Gerindra Arief Poyuono mengapresiasi gagasan Gatot itu. Namun, Arief menilai gagasan aksi nusantara satu disampaikan saat momentumnya kurang pas yakni jelang aksi bela Islam jilid III.
Rekomendasi