Kutuk penganiayaan koresponden NET TV, wartawan demo di TMP Kediri

Kutuk penganiayaan koresponden NET TV, wartawan demo di TMP Kediri. Para wartawan demo di depan TMP bertujuan biar para pahlawan yang sudah gugur mengetahui anggota TNI sekarang suka berperilaku arogan.

Imam Mubarok
Oleh Imam Mubarok - Reporter
Kutuk penganiayaan koresponden NET TV, wartawan demo di TMP Kediri
Jurnalis demo tni. ©2016 merdeka.com/imam mubarok

Gabungan organisasi wartawan di Kediri menggelar demonstrasi mengutuk kekerasan yang dilakukan anggota TNI kepada kontributor NET TV Soni Misdananto di depan Taman Makam Pahlawan Kota Kediri, Minggu (3/10).Aksi diikuti anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kediri dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kediri."Kenapa di depan Taman Makam Pahlawan, biar tahu para pahlawan bahwa generasi penerusnya tak lagi mengindahkan rasa welas asih kecuali arogan," kata Devisi Advokasi AJI Kediri Agus Fauzul.Masih menurut Agus, AJI mengutuk tindakan kekerasan aparat TNI terhadap jurnalis yang sedang melakukan tugas jurnalistik. Menurutnya, setiap kegiatan peliputan yang dilakukan wartawan dilindungi Undang undang Pers Nomor 40 tahun 1999."UU tersebut dengan tegas menyatakan bahwa jurnalis dilindungi dari tindak dan atau perampasan alat-alat kerja, serta tidak boleh dihambat atau diintimidasi oleh pihak manapun," tambahnya.Selain melakukan orasi secara bergantian oleh perwakilan organisasi wartawan, acara juga diisi dengan teatrikal yang menggambarkan kekerasan anggota TNI kepada wartawan.Seperti diketahui Soni Misdananto dianiaya sejumlah anggota TNI Angkatan Darat Batalyon Infanteri 501 Rider Madiun saat menjalankan tugas sebagai jurnalis.Saat itu korban sedang dalam perjalanan menuju Madiun, tepatnya di Jalan Raya Madiun Ponorogo. Saat tiba di dekat perempatan Te'an, Kelurahan Demangan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, hujan deras mengguyur. Soni yang berboncengan dengan temannya memutuskan menepi dan berteduh di rumah
warga.Di sekitar perempatan itu juga terlihat sejumlah aparat gabungan TNI dan Polisi yang berjaga mengamankan peringatan Suroan.Tak lama berselang muncul iring-iringan (konvoi) kendaraan anggota perguruan silat usai mengikuti peringatan Suroan. Tiba di perempatan, kendaraan paling depan dari rombongan itu menabrak kendaraan pengguna jalan yang berhenti di lampu merah.Sebagai seorang jurnalis, Soni Misdananto secara spontan mengeluarkan kamera untuk mengabadikan peristiwa kecelakaan itu. Di tengah merekam peristiwa itu, muncul sejumlah anggota TNI AD Yonif 501 Rider Madiun yang menyerbu dan menghajar peserta konvoi yang terlibat kecelakaan tersebut.Soni pun tetap merekam peristiwa itu hingga tiba-tiba sejumlah anggota TNI mendatangi dan menginterogasinya.Usai menjelaskan identitasnya sebagai kontributor NET TV, salah satu prajurit meneriaki kawan-kawannya yang terlibat pemukulan peserta konvoi. Prajurit itu memberitahukan jika ada wartawan yang merekam pemukulan itu dan langsung menghentikan aksinya.Selanjutnya, Soni dibawa paksa menuju sebuah rumah yang terdapat banyak anggota TNI dan polisi. Soni menduga mereka adalah personel pengamanan gabungan yang ditugaskan menjaga peringatan Suroan di sepanjang jalan.Di tempat itu Soni kembali diinterogasi dan diminta menunjukkan tanda pengenalnya sebagai Kontributor NET.TV. Selain itu anggota TNI lainnya juga meminta kamera milik Soni dan mengambil memori card yang berisi rekaman pemukulan tersebut. Di depan Soni, anggota TNI itu mematahkan memori card dan mengancam untuk tidak memberitakan.Di tengah interogasi dan intimidasi itu, sejumlah anggota TNI tiba-tiba masuk dan langsung menghajar Soni dengan brutal. Diawali dengan pemukulan pada kepalanya menggunakan besi berbentuk lengkung, pipi kirinya juga ditonjok dengan keras. Pemukulan paling menyakitkan, menurut Soni, adalah tendangan lutut dari seorang prajurit yang menghantam badannya.Dalam kondisi dikeroyok dan tak bisa melawan, Soni ditarik oleh seseorang dari kerumunan itu dan dipindahkan ke rumah salah satu warga yang menjadi lokasi penitipan sepeda.Belum lama menarik napas dari hajaran brutal TNI, seorang prajurit kembali mendatangi. Dia meminta Kartu Tanda Penduduk milik Soni dan memotretnya menggunakan kamera ponsel. Usai memotret, anggota TNI itu mengancam untuk tidak memberitakan dan akan mencari keberadaan Soni di rumahnya jika tetap menyiarkan.

Rekomendasi