Warga yang beraktivitas di sekitar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, mengaku trauma dengan ambruknya Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sebagian dari mereka bahkan menolak untuk menggunakan fasilitas JPO Lenteng Agung dan memilih untuk menyeberang langsung. Alhasil, jalan dari Depok menuju Pasar Minggu itu semakin macet.
Salah seorang warga yang memilih menyeberangi jalan tanpa menaiki JPO Lenteng Agung yaitu Widya (50). Dia mengaku merasa ngeri dan trauma menaiki JPO setelah mendengar kabar runtuhnya JPO Pasar Minggu kemarin, Sabtu (24/9).
"Abisnya trauma. Ngeri," ujarnya saat ditemui di area Stasiun Lenteng Agung, Minggu (25/9).
Menurutnya, pemerintah sebaiknya lebih memerhatikan keselamatan para pejalan kaki. "Kan kasihan itu yang meninggal," tuturnya.
Sementara itu, Nurrohmah (46) juga mengaku tidak ingin menggunakan fasilitas JPO dan lebih memilih langsung menyeberangi jalan, meskipun dia tahu risiko dan bahayanya.
"Jembatan lain juga banyak yang sudah kelihatan rusak-rusaknya. Mending menyeberang langsung saja sekalian," ujarnya.
Fikri (32) pun berpendapat sama. Laki-laki yang berprofesi sebagai pedagang itu mengaku tidak heran dengan kejadian robohnya jembatan tersebut. Dia mengatakan, pemerintah seharusnya melakukan pengecekan terhadap setiap fasilitas umum, termasuk JPO, setidaknya sebulan sekali.
"Liat saja itu murnya pasti juga ada yang lepas. Emangnya pemerintah tahu? Mereka mah asal bangun, abis itu yaudah dibiarin," tuturnya.
Kemarin, jembatan yang membentang dari Stasiun Pasar Minggu hingga pasar tradisional Pasar Minggu itu runtuh dari ketinggian kurang lebih 10 meter. Dilaporkan, kejadian ini telah memakan sebanyak 10 korban, dengan 3 di antaranya meninggal dan 7 lainnya luka-luka.