Suka tidak suka, prestasi olahraga menjadi lahan industri

"Atlet berlaga bukan hanya demi harum bangsa tapi juga memperoleh penghasilan," kata Budiarto Shambazy.

Muchlisa Choiriah
Oleh Muchlisa Choiriah - Reporter
Suka tidak suka, prestasi olahraga menjadi lahan industri
Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir di Asian Games. ©AFP PHOTO

Medali emas yang diraih ganda campuran bulu tangkis Indonesia, Tontowi-Liliyana, membuat keduanya mendapatkan berbagai hadiah dari pemerintah. Pertama, pemerintah menjanjikan peraih emas Olimpiade mendapat bonus Rp 5 miliar. Kedua, peraih emas akan mendapat tunjangan Rp 20 juta per bulan seumur hidup.Mantan redaktur olahraga, Budiarto Shambazy, beranggapan bahwa olahraga Indonesia saat ini bukan hanya mengedepankan prestasi saja, melainkan ajang industri."Olahraga kita sekarang ini memang banyak dijadikan bahan industri yang profesional, suka engga suka, artinya atlet berlaga bukan hanya demi harum bangsa tapi juga memperoleh penghasilan," kata Budi dalam sebuah diskusi di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat‬, Sabtu (27/8).Budi memaparkan, hal itu bisa dilihat dalam siaran olahraga dunia seperti hanya 3 atlet yang bisa menghasilkan lebih dari 1 miliar dollar. Di antaranya pembalap F1, Michael Schumacher dan pesepak bola, David Beckham. "Hal ini terlihat bahwa semua serba industri, artinya keterlibatan pemerintah semakin kecil, bukan karena mereka enggak mampu berkontribusi, tetapi olahraga diberikan ke industri demi penghasilan dan prestasi," tutupnya.

Rekomendasi