Pemerintah didesak meminta penjelasan pemerintah Turki terkait tiga orang mahasiswa Indonesia yang ditangkap aparat keamanan Turki karena diduga terkait jaringan Fethullah Gulen.
"Pemerintah RI melalui Kementerian Luar Negeri harus segera meminta penjelasan dari pemerintah Turki," ujar Anggota Komisi I DPR Charles Honoris saat dihubungi wartawan, Jumat (19/8).
Tidak hanya itu, Charles juga meminta pemerintah menjamin keselamatan tiga mahasiswa tersebut. Caranya dengan memberikan bantuan hukum bagi mereka. Pemerintah juga perlu memberikan penegasan pada pemerintah Turki bahwa Indonesia tidak akan mencampuri urusan domestiknya, agar kejadian ini mempengaruhi hubungan Indonesia-Turki. Charles juga meminta KBRI Turki mengimbau WNI agar tidak terlibat gerakan politik apapun.
"Dalam kesempatan ini saya juga mengimbau kepada seluruh WNI di Turki yang khawatir akan terkena permasalahan hukum akibat kudeta militer, agar segera mendatangi KBRI untuk berkonsultasi atau meminta perlindungan," katanya.
Untuk diketahui, Kementerian Luar Negeri telah mendapat informasi perihal penangkapan 3 orang mahasiswi Indonesia oleh aparat keamanan Turki. Keduanya diamankan, karena diduga terkait dengan jaringan Fethullah Gulen, yang dituduh sebagai otak dari kudeta militer pada pertengahan Juli lalu.
Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri menyatakan dua mahasiswa yang belakangan ditangkap semuanya perempuan. Inisial mereka adalah DP asal Demak dan YU asal Aceh.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara mempertanyakan penangkapan ini kepada polisi setempat. Ternyata keduanya sempat tidak masuk target. "Namun saat aparat keamanan melakukan penangkapan di salah satu rumah dikelola Yayasan Gulen, kedua mahasiswa ada di rumah tersebut dan mengakui bhw mereka berdua memang tinggal di rumah tersebut," kata Iqbal dalam keterangan tertulis, Jumat (19/8).
Dua hari lalu KBRI Ankara mendatangi Pengadilan Bursa untuk bertemu dengan Jaksa penuntut. KBRI mengantisipasi jika nantinya kasus ini masuk ke pengadilan.
"KBRI sudah memastikan bahwa kedua mahasiswa didampingi pengacara," kata Iqbal.
Sebelumnya, seorang mahasiswa asal Wonosobo, Jawa Tengah, Handika Lintang Saputra ditangkap oleh aparat keamanan Turki pada 3 Juni lalu atas tuduhan terlibat organisasi teror bersenjata terafiliasi dengan gerakan Fethullah Gulen, perancang kudeta militer 17 Juli. Pria jago matematika ini, sekarang sedang menunggu jadwal sidangnya. Tiga mahasiswa itu semuanya mendapat beasiswa belajar ke Turki oleh PASIAD, di bawah Yayasan Gulen.