Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Sandjojo mengunjungi Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Dia melihat sejumlah sarana sudah cukup berkembang, akses-akses jalan pun sudah bagus.
"Karena sarana jalan sudah, kita arahkan dana desa buat pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat," kata Eko, Rabu (17/8).
Namun Eko meminta masyarakat di Belu untuk terus mengembangkan kreativitas ekonomi di berbagai bidang. Dia juga melihat masih banyak warga di daerah tersebut yang belum bisa berbahasa Indonesia. "Maka pendamping desa harus punya kualifikasi bisa bahasa Indonesia dengan baik dan tentunya menguasai program serta budaya setempat," katanya.Seorang warga Vincensius Moruk, di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu menuturkan, penggunaan dana desa di Silawan rata-rata untuk sarana usaha tani dan penyediaan air."Mayoritas dana desa di Belu untuk pendukung pertanian. Modelnya jalan usaha tani, sarpras kebutuhan alat tani seperti hand tractor, mesin penyedot air sumur, bibit pertanian. Itu kita pakai dari dana desa," ujar Vincen.Dia menuturkan, adanya dana desa sangat membawa perubahan bagi masyarakat di Belu. Sebelum ada ini warga hanya menunggu program dari kabupaten.
"Sekarang kita di desa buat rencana program sendiri sampai menggunakan dana itu juga sendiri. Ini langsung nyata kita rasakan di Belu," tuturnya.Diketahui, sebanyak 69 desa di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur telah menggunakan dana desa dari APBN dengan total Rp 96 miliar tahun ini. Dana desa itu dibagi untuk 69 desa di 12 kecamatan, dengan rata-rata per desa menerima Rp 600 juta-Rp 700 juta.