Di antara desiran ombak dan semilir angin di Pulau Batam, gedung itu berdiri tapi tidak sedap dipandang. Kotor dan lusuh.Penyebabnya, sudah 13 tahun proyek gedung itu mangkrak. Padahal, rencananya bangunan itu bakal dijadikan sebagai kawah candradimuka buat menempa agen telik sandi kelas dunia.Namanya gedung International School of Intelligence. Proyek itu digagas mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Abdullah Makhmud Hendropriyono, sebagai jenjang lanjutan dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasinya sengaja dipilih di tanah seluas 15 hektar di Nongsa, Pulau Batam. Letaknya cukup strategis, berada di bibir laut bagian utara Pulau Batam dan menghadap langsung Singapura. Peletakan batu pertama digelar pada November 2003. Saat itu, Presiden RI 2001-2004, Megawati Soekarnoputri, melakukan peletakan batu pertama."Dulu gedung BIN bang. Bu Mega dulu yang meresmikan peletakan batu pertama," kata Andi, salah satu warga bermukim di sekitar lokasi proyek.Yang melakukan pembangunan gedung adalah Yayasan Intelijen Republik Indonesia (YIRI). Pada 2003, Hendropriyono duduk sebagai ketua dewan pembina. Proyeknya melibatkan banyak pihak. Salah satu digandeng adalah Institut Teknologi Bandung. Sebab, gedung itu dirancang oleh Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia ITB. Mestinya, bangunan itu selesai dalam sepuluh bulan. Namun, kenyataannya berbanding terbalik. Kabarnya, proyek terhenti lantaran status lahan. Sebab, tanah itu bukan milik negara atau BIN. Pengganti Hendropriyono, Syamsir Siregar, memutuskan memberhentikan proyek."Sekarang jadi tempat orang pacaran dan kumpul-kumpul," ujar Andi.
Advertisement
Merdeka.com sempat bertandang ke lokasi. Gedung setengah jadi itu memiliki tiga lantai. Terlihat jelas sudah ditinggalkan sejak lama. Namun, di lokasi berserakan pecahan diduga botol miras. Selain itu, kayu penahan cor juga masih ada. Bahkan kabarnya lokasi itu tempat favorit berbuat mesum."Dulu masyarakat sini juga banyak yang menolak. Katanya tak ada ganti rugi," tambah Andi.Entah mengapa, setelah Megawati tidak menjabat lagi, proyek itu pun mandek. Padahal, sekolah itu ditargetkan buat mendidik agen dan analis dari Indonesia dan ASEAN.Kini, lahan itu diincar banyak pihak. Beberapa pengusaha hendak membeli lahan itu karena proyek mangkrak."Sudah banyak pengusaha yang datang untuk melihat-lihat ke sini," imbuh Andi.Kabarnya, seorang pengusaha hotel asal Surabaya, Wahyu Susilo, telah mengambil alih izin tanah itu. Menurut kabar, dengan izin penggunaan lahan itu, dia akan membangun sekolah dan tambak udang."Saya ditawarin BP. Dulunya kan mau dibangun untuk BIN. Tapi karena ada keputusan pemerintah untuk menghentikannya, tidak jadi dibangun," kata Wahyu Susilo di Batam.Wahyu mengaku, informasi diterimanya dari BP Batam, lahan dan bangunan berdiri di atas lahan itu bukan milik BIN atau pun milik negara."Setelah dokumen diperiksa anak saya, itu milik yayasan. Kita tidak ada berhubungan sama BIN, kita hanya berhubungan sama otorita Batam," ujar Wahyu.
Merdeka.com sempat mencoba mengkonfirmasi soal proyek itu kepada Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Laode Muhammad Syarif. Namun, jawabannya belum memuaskan.
"Maaf, saya belum tahu detail proyek itu," tulis Laode melalui pesan singkat kepada merdeka.com.