Ketua Fraksi NasDem ngaku diutus Paloh dampingi pembebasan 10 WNI

Viktor mengklaim bahwa partainya turut memberikan kontribusi ‎bagi bebasnya para sandera.

Dieqy Hasbi Widhana
Oleh Dieqy Hasbi Widhana - Reporter
Ketua Fraksi NasDem ngaku diutus Paloh dampingi pembebasan 10 WNI
Viktor Laiskodat. ©2015 merdeka.com/dede rosyadi

Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Viktor Laiskodat menjelaskan bahwa 10 WNI yang sebelumnya ditawan kelompok Abu Sayyaf di Filipina, kini telah bebas dalam keadaan sehat. Sejauh ini mereka hanya menderita kelelahan fisik. Hal tersebut lantaran disandera selama sebulan dengan perlakuan tak manusiawi. "Mengingat selama ditawan sebulan lebih, mereka hanya mendapat makan sehari sekali. Mereka juga tak diberi akses air bersih, sehingga hanya bisa mandi dan membersihkan diri saat hujan turun," kata Viktor dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/5). ‎ Anggota komisi I DPR ini mengklaim bahwa partainya turut memberikan kontribusi ‎bagi bebasnya para sandera. Bahkan dia sendiri mengaku diutus Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh untuk mendampingi proses pembebasan hingga pemulangan 10 WNI tersebut sejak (23/4). "Tim kemanusiaan Surya Paloh terdiri dari misi gabungan Yayasan Sukma, Media Group, dan Partai NasDem. Yayasan Sukma adalah lembaga kemanusiaan di bidang pendidikan, yang didirikan Februari 2005 atau sekitar dua bulan setelah tragedi tsunami Aceh. Yayasan tersebut fokus di bidang pendidikan. Dalam perkembangannya, yayasan ini terlibat berbagai kerja sama pendidikan, termasuk dengan pesantren-pesantren di Moro Selatan, Filipina," jelasnya.Atas jaringan itulah, Yayasan Sukma bersama Tim Kemanusiaan Surya Paloh menjalankan misi pembebasan sepuluh sandera Abu Sayyaf. Dalam proses itu, Yayasan Sukma diwakili Ahmad Baedowi dan Dr. Samsu Rizal Panggabean. Sementara Media Grup diwakili CEO Rerie L Moerdijat. Para sandera dibebaskan tanpa ada uang tebusan sepeserpun. "Proses pembebasan ini murni dilakukan melalui negosiasi. Jadi, tidak ada uang tebusan yang diminta Abu Sayyaf sebanyak 50 juta peso itu," ujarnya. Proses negosiasi sendiri berjalan lancar. Menurut Viktor, hal ini bisa terjadi lantaran jaringan yang dimiliki Yayasan Sukma. Negosiasi dilakukan dengan pendekatan pendidikan. Yayasan Sukma mengorganisir jaringan-jaringan kerja sama di wilayah pemerintahan otonom Moro Selatan. Dalam hal ini, para tokoh masyarakat setempat, LSM dan lembaga kemanusiaan daerah Sulu, turut memberi akses terhadap kelompok Abu Sayyaf.

Rekomendasi