Ada sederet kasus arogansi remaja di jalanan dan kerap melawan aturan hukum. Mereka menggunakan jabatan orang tua, sanak saudara yang notabene perwira tinggi di institusi kepolisian maupun TNI sebagai tameng untuk melawan hukum.
Dengan sombong mereka mengaku sebagai anak jenderal, anak pejabat tinggi Polri atau TNI sebagai senjata untuk lolos dari pelanggaran yang mereka lakukan. Kebanyakan perilaku seperti ini terjadi di jalanan. Meskipun salah, mereka tetap ngotot dan berani berdebat dengan polisi atau pengguna jalan yang lainnya.
Ada hal menarik jika menilik arogansi anak jenderal di ruang publik. Sosiolog Musni Umar menjelaskan, arogansi dengan tameng atau membawa nama petinggi TNI/Polri atau pejabat, sesungguhnya identik dengan era orde baru, saat Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Saat itu masyarakat Indonesia langsung bergetar begitu mendengar tahu berurusan dengan kerabat jenderal atau petinggi TNI/Polri.
Strata sosial dengan menempatkan petinggi TNI/Polri di jajaran kelas atas, membuat masyarakat kelas menengah ke bawah segan. Ditambah gaya-gaya militerisme yang identik dengan kekerasan masih diterapkan di zaman itu.
"Pengaruh Orde Baru melekat di masyarakat. Jenderal ditakuti. 'Saya anak jenderal', polisi dan rakyat percaya dan takut. Kita dicuci otak, sehingga penghormatan itu, mau dia jenderal, pejabat, kemudian menjadi sesuatu menakutkan dan membuat gemetar. Itu yang terjadi," ungkap Musni Umar saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (8/4).
Musni melanjutkan ceritanya, saat itu masyarakat atau penegak hukum enggan berurusan dengan mereka yang berlabel keluarga jenderal, keluarga petinggi TNI/Polri. Sebab, hukum menjadi tumpul atau seolah tak berlaku. Setidaknya penilaian itu melekat di masyarakat. Seiring berjalannya waktu, ternyata pola pikir masyarakat tidak mengalami perubahan. Masih melekat gambaran besarnya kekuasaan TNI/Polri.
Wakil Rektor Universitas Ibnu Chaldun ini menambahkan, reformasi ternyata tidak mengubah pola pikir. Sebab, seseorang yang memiliki kedudukan dan jabatan tinggi masih mendapat penghormatan meski mereka berlaku salah.
Lebih lanjut, Musni mengidentikan kondisi masyarakat yang takut terhadap seseorang yang memiliki kedudukan sebagai mental kodok. Menurutnya, kodok yang diletakkan dalam ember yang disiram air panas akan diam sampai mati.
"Masyarakat seperti nrimo (menerima) saja. Seperti sudah takdir," katanya heran.