Beberapa orang yang mengatasnamakan diri Cendekiawan Indonesia mendatangi Gedung DPR. Meski megaproyek pembangunan Gedung baru DPR tengah terhambat, mereka tetap mengusulkan pembangunan perpustakaan level Asia Tenggara. Mereka antara lain Taufik Abdullah, Ignas Kleden, Raden Pardede, Luthfi Assyaukanie, Rizal Mallarangeng, Kuskridho Ambardi, Ulil Abshar Abdalla, Ahmad Sahal, Nirwan Dewanto, Nirwan Asuka, Ayu Utami, Andy Budiman. Kedatangan mereka disambut oleh Ketua DPR Ade Komarudin dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Pertemuan tersebut berlangsung pukul 10.00 hingga 12.30 WIB. "Bagaimana meningkatkan kualitas parlemen kita dan untuk bagaimana bangsa ini semakin hari semakin maju terutama berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa ini fokus infrastruktur jalan dan sekarang kita membangun infrastruktur sumber daya manusia yang lebih penting yaitu perpustakaan se-Asia Tenggara," kata Ade di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/3). Rizal Mallarangeng mengakui bahwa dia datang bersama koleganya untuk mengusulkan pembangunan perpustakaan di kawasan DPR. Menurutnya harus ada tempat memperoleh pengetahuan dengan mudah yang mencerminkan semangat zaman. "Kami mengusulkan suatu hal yang sebenarnya sudah sejak lama harus diusulkan. Tapi kebetulan momentumnya bagus dan suasana hati maka kita datang resmi mengusulkan agar parlemen Indonesia membangun perpus umum terbesar se-Asia Tenggara," kata Rizal.Dia berujar bahwa kemungkinan perpustakaan tersebut bisa dipimpin oleh chief executive officer yang dipilih presiden dengan DPR, MPR, dan DPD. Sedangkan Ilmuwan Sosial Ignas Kleden menjelaskan, bangsa Indonesia harus memikirkan bagaimana meningkatkan kinerja dan prestasi parlemen. Menurutnya membangun perpustakaan menjadi penting agar orang-orang di sekitarnya bisa tertular menjadi maju. "Kalau ada perpustakaan sebesar ini akan menjadi tempat pertukaran intelektual. Perpustakaan suatu sarana untuk membuka jalan pikiran," tutur Kleden. Sastrawan Ayu Utami mengakui bahwa dia kerap mengkritik DPR. Namun untuk membangun proyek ini dia enggan melontarkan kritik.
"Sikap kami mengkritik DPR. Tapi justru karena kami sering mengkritik kami berpikir bagaimana parlemen punya satu perpustakaan. Nanti ada kecemburuan sosial gak? Justru tujuannya agar muncul kecemburuan agar mereka bisa meniru. Ini proyek mercusuar yang simbolis yang bisa mengangkat apa yang kami usahakan bersama," jelasnya. Ade menilai kedatangan mereka membawa niat mulia. Dia menyatakan tak masalah tidak percaya dengan anggota DPR, tapi jangan tidak percaya pada cendekiawan."Kalau teman-teman enggak percaya sama cendekiawan saya enggak tau lagi, sudah kiamat dunia. Saya minta kita semua dengan pendekatan positif thinking. Saya selaku ketua DPR tolong teman-teman dukung dengan baik. Anggota DPR yang sesat pikirannya menjadi lurus," jelas Ade. Soal anggarannya, Ade akan membahasnya dengan pimpinan DPR dan seluruh pimpinan fraksi. Sejauh ini menurutnya anggaran pembangunan gedung DPR sudah ada, tinggal memasukkan agenda proyek perpustakaan di dalamnya. "Itu menurut saya multiyears, tidak mungkin tidak terwujud. Soal anggara tak ada masalah, kita tinggal modifikasi dengan anggaran DPR," pungkasnya.