Kisah Yafi, 'remaja raksasa' tinggi 2,10 meter asal Malang

Tubuh Yafi setinggi 2,10 meter, sementara pintu rumah kakaknya hanya sekitar 1,70 meter.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kisah Yafi, 'remaja raksasa' tinggi 2,10 meter asal Malang
Foto remaja raksasa yafi. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Remaja 16 tahun asal Malang, Yafi Wijayanto mengidap gigantisme. Pertumbuhan tak wajar selama 5 tahun, menyebabkan tinggi badannya mencapai lebih dari dua meter.Cerita ini berawal setelah Yafi khitan jelang naik kelas VI Sekolah Dasar (SD). Saat menginjak Kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP), tubuhnya semakin bertambah tinggi dan membesar, melebihi rekan-rekan sebayanya.Saat beranjak ke kelas 2, tinggi tubuhnya sudah mencapai 1,98 meter. Namun di samping itu, Yafi merasakan sakit luar biasa. Kepalanya kerap pusing ditambah daya penglihatan matanya semakin kabur.

Foto remaja raksasa yafi ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Karena tidak kuat menahan sakit, saat pusing datang, Yafi kerap membenturkan kepalanya ke tembok. Dia mengaku tidak kuat menahan rasa sakit dialami.

"Dulu kalau sudah kepala pusing, kepalanya dibentur-benturkan tembok. Matanya kabur sehingga sekolahnya terganggu," kata Rahmad, ayah Yafi, saat ditemui di rumahnya di Dusun Bengkaras RT 14/RW 05, Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Selasa (16/12).Pertumbuhan Yafi yang drastis itu akibat kondisi disebut gigantisme. Yaitu hormon pertumbuhan yang berlebihan. Yafi butuh pengobatan khusus yang tidak murah, bahkan tidak bisa dilakukan di Indonesia.Kini usia Yafi menginjak 16 tahun, dengan tinggi tubuh mencapai 2,10 meter. Yafi telah menjalani pengobatan sejak 2013, diawali melalui Puskesmas Pujon, sebelum kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA).

Foto remaja raksasa yafi ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko


Si 'remaja raksasa' pun terpaksa berhenti sekolah akibat kesibukan berobat. Selama sekitar lima bulan di bawah pengawasan dokter Hariyoedi dari RSSA, dan 2,5 bulan menjalani rawat inap. Dokter melakukan pengambilan jaringan lewat hidung yang membuat pusingnya hilang.RSSA kemudian merekomendasikan Yafi ke Yayasan Children First Australia buat dirawat di Melbourne, Australia. Selama setahun, Rafi menjalani pengobatan di Australia dengan pembiayaan lembaga itu.

"Sekarang sudah tidak pusing, tidak kabur lagi. Dua kali operasi pengambilan hormon dan dua kali operasi di Australia," kata Yafi.Michele Lyons, perwakilan Yayasan Children First Australia mengatakan, kasus Yafi baru pertama ditangani. Selama ini, yayasannya menangani berbagai penyakit yang diidap anak-anak dari berbagai negara.

Foto remaja raksasa yafi ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

"Tumor berkurang, tetapi belum sepenuhnya mati karena butuh bertahun-tahun. Yafi masih bisa tumbuh dengan normal sampai sekitar 21 tahun. Selama ini yang dilakukan terapi radioaktif," kata Michele Lyons, yang sepekan berada di Indonesia mendampingi Yafi.Ada pengalaman tersendiri bagi Yafi saat menjalani pengobatan di Australia. Di sana, dia malah mahir berbahasa Inggris.Yafi semula sama sekali tidak menguasai bahasa Inggris. Kini dia fasih berbahasa Inggris sebagai percakapan sehari-hari. Bahkan dia menjadi satu-satunya dalam keluarga yang bisa berkomunikasi dengan Michele.

Michele sejak 11 Desember 2015 lalu mengantarkan Yafi pulang ke Indonesia, dan memantau perkembangannya. Dia berada di Indonesia selama sepekan dan ikut tinggal di rumah keluarga Yafi.Yafi cukup fasih berdialog dan bersenda gurau dengan Michele. Selama keliling ke tempat-tempat wisata, Yafi selalu mendampingi sekaligus menjadi penerjemahnya.Dari sisi psikologis, Yafi nampak sangat percaya diri dalam berkomunikasi dengan orang lain. Dia merasa benar-benar siap kembali ke sekolah."Saya ingin ikut kesetaraan atau paket kejar, jadi nanti tidak begitu tertinggal," harap Yafi.

Foto remaja raksasa yafi ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Pendamping Yafi di Rumah Sakit Saiful Anwar, dr Hariyoedi mengatakan, Yafi memiliki keinginan kuat kembali bersekolah. Namun semua sedang dipikirkan bagaimana teknisnya.

"Secara sosial barangkali akan diolok-olok oleh temannya, tetapi seiring waktu dia akan bisa menyesuaikan. Lebih baik memang harus ikut paket, karena selama ini sudah tertinggal," kata Hariyoedi.Orangtua Yafi menceritakan perjuangan keluarga dalam mengobati penyakit gigantisme. Selain pengobatan medis, si 'raksasa' juga pernah dibawa ke dukun."Dukun mana saja saya datangi, Jawa Tengah, Banyuwangi, Jombang. Pokoknya ada yang memberitahu, saya berangkat," kata Minarsih (55), istri Rohmad.Yafi membutuhkan pengobatan khusus yang tidak murah bahkan tidak bisa dilakukan di Indonesia. Selama lima tahun penyakit itu diderita Yafi, baru belakangan menjalani pengobatan di rumah sakit.Selama itu tidak sedikit biaya yang sudah dikeluarkan. Sebagai seorang petani, apapun dilakukan termasuk menjual rumah, demi mendapatkan kesembuhan anaknya."Rumah sudah dijual. Ini rumah salah satu anak saya. Saya bledik (kejar) terus demi anak. Saya pasti bayar berapa pun biayanya, ditelepon dokternya langsung berangkat. Ke sana-sini cari pinjaman," kata Romad."Saya tidak takut utang. Pokoke Gusti Allah sugih. Bayangkan 2 tahun harus kontrol," tambah Minarsih.

"Plong, hati saya lega, usaha kami dengan dibantu banyak orang akhirnya berhasil. Jodoh penyakitnya (sembuh) diambil (dioperasi) oleh dokter. Diambil cairannya 8-10 liter." katanya.Bagi Yafi, memiliki tinggi badan di atas rata-rata orang Indonesia tidaklah mudah. Dia harus menyesuaikan diri. Seperti saat masuk kamar, dia kini harus menunduk biar tidak terbentur.Tubuh Yafi setinggi 2,10 meter, sementara pintu rumah kakaknya hanya sekitar 1,70 meter. Kondisi yang sama juga dialaminya saat masuk pintu utama dan kamar mandi."Apa begini saja mas, biar kelihatan tinggi," kata Yafi dengan tubuh di balik pintu seolah kepalanya tampak terpotong di rumah kakaknya, Selasa (16/12).Kamar dipakai Yafi berukuran 2,5 meter x 2,5 meter. Satu sisinya nampak penuh dengan tempat tidur sepanjang 2,40 meter. Kamar itupun terlihat sesak saat Yafi berada di dalamnya."Semula rencananya saya buatkan kasur di bawah begitu saja. Rupanya Pangeran yang tidak boleh. Gusti Allah punya welas (kasih)," kata Rahmad.

Rahmad pun menceritakan kalau memiliki banyak 'saudara baru' yang menolongnya selama mengobati anaknya. Termasuk dokter pendamping di RSSA yang sudah dianggapnya sebagai saudara yang banyak membantunya.Bahkan selama anaknya berobat di Australia, sempat dikunjungi seseorang yang sebelumnya tidak pernah dikenal. Orang itu berasal dari Kota Batu, yang kemudian mengirimkan utusan untuk menemui keluarga Yafi di kampung halaman di Pujon."Saya waktu itu masih buruh memanen apel, kemudian dipanggil, diajak foto-foto. Gambar itu kemudian dikirimkan ke Australia," kata Minarsih menimpali.Sejak saat itu, orang itu menjadi saudara baru. Tempat tidur Yafi pun diberi seorang kerabat baru yang tiba-tiba datang ke rumahnya.

Rekomendasi