Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) saat ini tengah berupaya untuk membenahi sistem transportasi.Berbagai cara telah dilakukan untuk mencari solusi agar sistem sistem transportasi di kota yang akan berulang tahun ke-tujuh itu. Akhirnya, pada Mei 2015 lalu Tangsel telah me-launching transportasi massal yang dirancang untuk melayani masyarakat dan menghindari kemacetan.Fokusnya tidak lagi pada angkutan kota (angkot) berkapasitas kecil, melainkan angkutan massal seperti hal-nya Busway di DKI Jakarta. Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika H. Sukanta pada Senin (16/11/2105) menjelaskan, pengoperasian bus Trans Anggerak Circle Line berguna untuk meningkatkan layanan transportasi massal yang menghubungkan seluruh stasiun kereta api di Kota Tangerang Selatan dan yang nantinya akan terintegrasi ke Bandara Soekarno-Hatta.Sebanyak lima bus ukuran tiga perempat akan digunakan untuk angkutan massal.Bus tersebut dinamakan Bus Trans Anggrek. Kenapa anggrek, sebab anggrek telah menjadi ikon Kota Tangerang Selatan yang dimana petaninya banyak tersebar di kota tersebut.Lima armada Trans Anggrek Circle Line disiapkan melayani tiga perjalanan dari delapan koridor. Seperti menyusuri Jalan Pondok Cabe, Jalan RE Martadinata, Jalan Ir H Djuanda, Jalan Prabu Siliwangi, Jalan Benda Raya, Jalan Ciater Raya, Jalan Rawa Buntu-Buaran. Rute-rute tersebut merupakan tempat pusat pemerintahan, sentra bisnis, dan stasiun kereta api. Bus ini menjadi shuttle bus bagi warga untuk bepergian ke sekolah, perkantoran dan stasiun kereta api.Bus Trans Anggrek Circle Line ini menggunakan kendaraan ukuran sedang berkapasitas 29 tempat duduk, yang dilengkapi AC, kamera CCTV, WiFi, dan Global Positioning System (GPS).Bus Trans Anggrek dioperasikan dengan jadwal pada jam kerja yaitu Senin sampai Jumat. Waktunya pun diatur ke dalam tiga shift. Pagi mulai jam 06.00 – 09.00 WIB; siang jam 11.00-14.00 WIB serta sore jam 16.00 – 18.00 WIB.Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan, dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta pihaknya telah membuat blue print mengenai transportasi terintegrasi."Kita punya konsep circle Tangsel, circle Tangsel ini nantinya akan menjadi transportasi keliling ke tujuh kecamatan baik untuk barang dan orang," terang Benyamin.Karenanya, Pemkot Tangsel kini sedang membuat suatu jaringan jalan yang dapat menghubungkan antar kecamatan, terutama pada pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.Saat ini, sudah ada lima bus Trans Anggrek sebagai penopang untuk mewujudkan transportasi terintegrasi tersebut. Belum lagi, kata Benyamin, Airin Rachmi Diany sebagai Wali Kota Tangsel telah berkomunikasi kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) agar Light Rail Transit (LRT) yang direncanakan sampai ke Lebak Bulus itu dapat tersambung ke Kota Tangsel.“Bu Wali sudah ada komunikasi itu ke Gubernur DKI, LRT kita ingin tarik yang dari Lebak Bulus ke Tangsel,” tuturnya.Sedangkan, untuk melengkapi konsep circle Tangsel pihaknya juga tengah membangun Terminal Pondok Cabe di Pamulang. Adapun anggaran yang akan digelontorkan Rp 64 miliar yang diambil dari dana hibah dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Adapun kapasitasnya 300 bus, dengan setiap harinya akan ada 60 pergerakan. “Karena seperti diketahui Terminal Pondok Cabe akan menjadi bus antar provinsi juga, yakni Banten, DKI dan Jawa Barat. Terminal ini akan beroperasi pada 2016,” katanya.Terminal Pondok Cabe sendiri saat ini luasnya tiga hektare dan akan diperluas menjadi lima sampai enam hektare, selain itu juga akan dibangun akses khusus ke terminal. Akses tersebut direncakan fly over atau underpass dengan dilengkapi pusat perbelanjaan. “Nah, nantinya juga ada sub-sub terminal,” kata Benyamin.Belum lagi, kata Benyamin, jika Tol Serpong-Balaraja telah selesai dibangun. Hal itu tentunya, menurut Benyamin akan terkoneksi dengan moda transportasi lain seperti yang telah ada saat ini yakni Trans Anggrek.“Sesuai dengan hukum pasar kalau sudah seperti itu, beban Jakarta akan berkurang. Tangsel akan berkembang, pertumbuhan terus akan naik, Tangsel bukan lagi daerah penyangga,” terangnya.Saat ini saja, kata dia, penduduk di Tangsel yang beraktivitas di DKI Jakarta sebanyak 60 persen. Sedangkan Sabtu dan Minggu kondisi di Tangsel justru macet, karena para penduduknya keluar untuk mencari makan di luar.“Belum lagi kita kalau bicara lima statsiun kereta api yang ada di Tangsel, tiga di antaranya yakni Rawa Buntu, Sudimara dan Pondok Ranji akan ditambah park and ride lagi,” tuturnya.Apa yang diutarakan Benyamin Davnie tentang Circle Tangsel adalah rencana jangka panjang dalam penanganan kemacetan. Sedangkan, jangka pendeknya menurut H Sukanta, hingga kini dari 60 titik macet yang dulu ada telah semakin berkurang sejak dua tahun belakangan menjadi 15 titik. “Itu pun karena sedang ada pembangunan, seperti di Jalan Prabu Siliwangi, Ciputat dan Gaplek,” tandasnya. (ADV)
Bus Trans Anggrek mampu tingkatkan layanan transportasi di Tangsel
Pada Mei 2015 lalu Tangsel telah me-launching transportasi massal yang dirancang untuk melayani masyarakat.
Rekomendasi